Rabu, 09 Desember 2015

Partikel-Partikel Luka



Apa yang tersisa dari sebuah kepergian yang tiba-tiba? Apa yang bisa dikenang dari sebuah pengabaian yang tak disertai alasan? LUKA. Selalu luka.
Dan kini aku sedang berusaha membinasakan partikel-partikel luka itu agar tak menjadi dendam pada dia yang pergi meninggalkan tanpa alasan..
Aku sudah berusaha mencari jawab. Bahkan aku bertanya-tanya pada mereka yang tak sepatutnya memberi jawab. Sementara ia yang punya alasan, hanya diam dan memaksaku memahami keadaan yang ia sendiri menciptakan.
Pedih…
Aku merasa salah  satu bagian tubuhku dicuri ketika aku sedang lelap tidur..
Aku tak henti menangis. Sementara ia tak henti diam. Menutup rapat mulutnya. Membawa apa yang menjadi alasan ia pergi sejauh mungkin dariku.
“Aku salah apa?” tanya hatiku lirih berkali-kali. Berulang kali aku menghadapkan diri ke depan cermin. Agar aku bisa tahu apa kurangku. Namun sehebat-hebatnya aku menerka, aku tetap butuh jawaban pasti apa yang telah membuat HATINYA MATI.
(Ah, aku menulis catatan cengeng lagi!) 



Pariaman, Hari ke Sembilan Milik Desember, 2015, ketika hujan yang tak mampu membasuh luka turun.


Minggu, 05 Juli 2015

Catatan Kalut Tak Berjudul


Aku seperti berada pada sebuah ruang kosong. Aku hanya bisa melakukan dua hal. Bernafas dan berpikir; “akan kemana aku setelah ini..?”
Aku seperti terasing…
Tiada teman…
Bahkan hanya untuk sekedar bertukar fikiran.
Semenyedihkan inikah hidupku sekarang?
Atau aku yang baru menyadari, bahwa dititik inilah, kehidupan baru dimulai?
Sebulan yang lalu aku baru saja diwisuda. Gelar sarjana ku peroleh. Tugas-tugas, skripsi dan segala hal berbau kuliah berakhir pada tanggal 30 Mei 2015 itu. Lalu apa yang dapat ku lakukan sekarang? TIDAK ADA! Aku hanya sibuk membuka satu persatu media sosialku. Seperti Twitter, facebook, instagram, dan BBMku. Tanpa tau aku harus kontak dengan siapa. Tanpa tahu aku ingin berkomunikasi dengan siapa. Hanya mengecek pembaruan-pembaruan mereka yang ku sebut teman, dan membiarkan handphoneku mati berjam-jam setlahnya. Sebegitu tidak petingnya hidupku!
Ku tatap ibu. Dia tak segemuk seperti beberapa tahun lalu. Diabetes menggerogoti badannya. Dalam hati lirih ku berkata “Apa yang sudah ku lakukan untuknya?”. Tak mudah seorang single parents mengantar anaknya ke gerbang pendidikan tertinggi. Ku tahu, ibuku tertatih melakukan itu. Aku merasa berdosa karena belum bisa mempersembahkan apa-apa. Baktiku baru seujung kuku. Baru sebatas mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang ku perolah untuk membelikan sekotak gula khusus untuk diabetes. Baru sebatas merebuskan daun sirsak yang ku minta di rumah tetangga untuk menurunkan gula darahnya. Lalu setiap bulannya mengantar beliau ke puskesmas terdekat untuk mengecek gula darahnya.
Sempat, terpikirkan untuk menikah. Aku takut kelak aku menikah, ibu tak lagi ada bersamaku. Namun segera ku buang pikiran picik itu. Aku belum sepenuhnya menomorsatukannya, bagaimana nanti jika aku menikah, tentu prioritasku lebih pada suami dan anak-anakku. Aku belum sepenuhnya bisa membahagiakannya. Aku belum bisa membelikan apa-apa, selain mentraktir beliau makan dari uang yang ku perolah dari menang lomba menulis. Hanya itu. Baru sebatas itu.
Aku benar-benar berada pada titik paling sedih hingga lupa bagaimana caranya meneteskan air mata. Aku berada pada titik terhampa, tanpa tahu cara meredamnya.
Ini bukan catatan seorang pengangguran baru. Tapi ini masalah, tega atau tidaknya meninggalkan ibuku untuk erangkat ke kota mengejar cita-cita. Aku begitu takut jauh dari beliau. Tapi aku juga tak ingin berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Haaahh…kalutku sudah mencapai puncaknya!!!

 Pariaman, 5/7/2015

Kamis, 02 Juli 2015

Aku, Si Ratu Ego




‘Ego!” Bukan sekali dua kali kau menudingku dengan kata itu ketika kita bertengkar.
Aku terkaum! Benarkah aku ego?
Ku tilik kebelakang dengan terus membawa tanya ‘apa benar aku ego?’ Setiap pertengkaran yang terjadi, selalu aku yang meminta maaf. Itukah ego? Setiap aku protes karena ia jarang memberi kabar, itukah ego? Ketika aku marah, dan berusaha menjelaskan apa yang membuatku marah itukah ego? Ketika aku butuh sedikit saja perhatian di sela kesibukannya itukah ego? Ketika aku berusaha menjaga hubungan ini agar tetap baik dengan memaparkan hal-hal yang tidak aku sukai itukah ego? Ketika aku melarang hal-hal kecil yang kerap kau lakukan yang dapat mengganggu kesehatanmu, itukah ego? Ketika aku menyarankan kau harus begini dan begitu demi masa depanmu itukah ego?
Ya, anggap saja itu ego. Ego seorang aku yang terlalu meninginkan yang terbaik bagimu. Ego seorang aku yang begitu takut kehilanganmu. Ego seorang aku yang terlalu menyayangimu.
Lalu,apa kau tahu apa ego terbesarku?
Ego terbesarku adalah menghubungimu terlebih dahulu dan meminta hubungan ini diperbaiki ketika kau jengah dan meminta berpisah. Ya, itu adalah ego terbesarku. Dan apa kau tahu, untuk melakukan hal itu aku berperang dengan logika dan harga diriku…
            Terimakasih..
            Egoku memanggilku keluar untuk menemukan yang lebih baik darimu. Darimu yang ‘selalu benar’ dan darimu yang membalut rasa bosan dengan melempar kalimat “Kamu terlalu ego, Netri!”
                                                                                                            Pariaman, 7/3/2015

Selasa, 23 Juni 2015

Sebuah Cerpen


Hilangnya Mak Mun
Oleh Netri Olala


Namanya Maimunah. Orang-orang kampung memanggilnya Mak Mun. Wanita paruh baya itu bertubuh gemuk dan pendek dengan pinggul yang besar. Sehingga ketika ia berjalan akan kelihatan seperti itik dari kejauhan. Jika akan ke luar rumah menuju lapau, ia tak lupa mengenakan tudung dari anyaman bambu persis seperti yang dipakai petani di sawah untuk melindungi kepalanya dari terik matahari. Tak lupa sandal yang terbuat dari kayu atau yang disebut orang Minang tangkelek, ia pakai untuk mengalas kakinya. Dengan cara berjalan yang khas, maka tangkelek Mak Mun akan menghasilkan suara yang khas pula. Suara itu sudah dihafal orang kampung. Mereka akan tahu, Mak Munl sedang lewat di depan rumah mereka hanya dari suara tangkeleknya. Tak ayal, induak-induak yang tengah bergunjing di lapau, kontan  menutup rapat mulutnya, jika sudah terdengar sayup suara tangkelek Mak Mun dari kejauhan.
Bungkamnya induak-induak yang tadinya menggebu-gebu bercerita tentang keburukan si ini dan si itu di lapau bukan tanpa sebab. Mak Mun adalah orang yang amat sinikel dan omongannya menukik tajam di hati orang yang terkena sindirannya. Jika mendapati induak-induak  tengah bergunjing di lapau, Mak Mun akan memberi wejangan dengan ceramah-ceramah agamanya. Pada saat itu ia akan melantunkan beberapa potongan ayat suci Al Quran lengkap dengan terjemahannya. Seketika, lapau akan berubah fungsi dan suasananya mirip seperti di Surau.
Mak Mun bahkan pernah menceramahi Anduang Mala yang usianya terpaut jauh darinya dengan dalih tak pernah melihat Anduang Mala sembahyang ke Surau. Perdebatan sengit pun terjadi kala itu.
“Sholat itu urusan aku dengan Tuhan, tak mesti di Surau, di rumah pun bisa. Bercerminlah kau dahulu sebelum mengajariku. Kita urus saja urusan kita masing-masing”. Anduang Mala membela diri. Namun bukan Mak Mun namanya jika kalah. Ia terus berargumen, tanpa peduli wajah Anduang Mala telah merah karna malu diceramahi di depan banyak orang. Waktu itu kejadiannya di sebuah pondok milik Amak Mana.
 Tak hanya itu, Mak Mun bahkan pernah membuat ricuh orang di dapur ketika memasak di rumah orang baralek.
“ Beras yang kau bawa hanya secanting, sedangkan nasi orang yang kau makan bersama anak-anakmu lebih dari apa yang kau bawa,” Mak Mun menyindir tajam salah seorang dari mereka yang tengah makan bersama dua orang anaknya yang masih kecil seusai menolong pekerjaan di rumah baralek. Kemudian ia mengkait-kaitkan hal tersebut dengan  agama. Ia mengkaji semua dengan ayat-ayat al quran yang entah kebenarannya. Pada kondisi ini tidak akan sanggup satu orang pun bersuara meski hati mereka murka. Puas berceramah, Mak Mun lalu pulang meninggalkan orang-orang di rumah baralek itu yang sebentar lagi akan menggunjingkannya. Maka, secepat kilat berita Mak Mun mericuh di rumah orang baralek pun segera menjadi buah bibir di seantero kampung.
****
Entah apa yang terjadi pada diri Mak Mun. Kali ini kampung kami dihebohkan lagi dengan berita Mak Mun bertengkar dengan jamaah pria di Surau.
“ Dia menuduh Pak Jamal tidak khusyuk dalam sembahyang. Bahkan, Mak Mun bersumpah bahwa ketika sholat Maghrib tadi, ia melihat Pak Jamal menoleh ke kanan dan ke kiri. Parahnya, ia menegur Pak Jamal di depan orang banyak, betapa malunya Pak Jamal” cerita Elok Siti pada orang-orang kampung yang tengah sarapan lontong di lapau Mak Ipah.
            “ Mak Mun itu keterlaluan! Anduang Rama saja sampai sekarang enggan ke Surau setelah dia bilang mukena yang dipakai Anduang Rama berbau karena tidak pernah dicuci. Ia bilang begitu, ketika Anduang Rama shalat disebelahnya”, timpal Ayang Pia.
            “Semakin hari dia semakin menjadi-jadi. Ia berbicara tanpa menenggang perasaan orang. Apa yang membuat dia seberani itu?  Lupakah dia bahwa dia itu orang Minang, sama seperti kita. Banyak hal yang harus diperhatikan ketika berbicara dan bertindak. Apa dia membanggakan hidupnya yang kini sudah kaya? Memang sekarang anak-anaknyanya sudah kaya raya di rantau orang, tapi di atas langit masih ada langit. Walaupun orang kampung disini hanya orang biasa yang cuma petani dan nelayan, pantaslah rasanya ia hargai. Toh untuk makan kita tidak meminta darinya”, Elok Siti berbicara lebih berani lagi.
            “Kalian hidup bukan di jaman kami dulu. Jadi untuk apa kalian menebak-nebak apa yang terjadi pada dia sekarang hingga begini. Asal kalian tahu saja, si Mun itu dulu adalah orang yang amat miskin di kampung ini. Untuk makan saja dia begitu susah. Dulu, tak sedikit hutangnya di lapauku, tapi karena iba pada anak-anaknya aku pun terus memberi dia hutang. Suaminya tidak bekerja karena sakit-sakitan. Tapi, yang membuat aku kecewa padanya adalah, ketidakjujurannya. Ketika aku lengah, dia menyelipkan beberapa dagangan ku seperti sabun, gula, dan roti di balik kain yang ia pakai. Sekali dua kali memang aku tidak mengetahui. Tapi ketika itu, entah apa yang membuat dia jatuh tersungkur sepulang dari lapauuku, maka berhamburan keluarlah segala apa yang tersembunyi dibalik kainnya. Aku benar-benar malu melihat kecurangannya. Semenjak peristiwa itu hingga sekarang, ia tak berani lagi kesini. Jika hendak membeli apa-apa ia akan pergi ke lapauu  Uni Sima. Ketika berjumpa denganku di jalan atau di Surau, dia akan memalingkan wajahnya. Kini hidupnya sudah berubah. Dia sudah berkecukupan. Aku tak berharap ia membayar semua hutangnya dulu  juga mengganti daganganku yang ia curi, yang aku mau hanya dia meminta maaf padaku.”
            “ Benar terjadi itu, Mak?” tanya Uni Mar tak percaya.
            “ Apa untungnya aku berdusta”. Mak Ipah meyakinkan. Semua orang yang berada di lapau Mak Ipah itu menggeleng tak percaya.
                                                ***
            Hari ini kampungku heboh lagi. Masih berita tentang Mak Mun. Kata orang-orang kampung, sudah lebih dari satu bulan Mak Mun tidak terlihat ke surau juga tidak nampak keluar rumah. Hal itu terjadi setelah Elok Siti bertengkar hebat dengan Mak Mun sehabis sholat Subuh waktu itu.
            “ Apa yang kau pertengkarkan dengannya, Siti?” tanya Mak Ipah ketika elok Siti belanja ke lapaunya.
            “Dia berani berkata bahwa anak ku bukan anak manusia karena anakku menangis di surau waktu itu. Dia mencaci maki anakku dan berkata bahwa anakku telah mengganggu kekhusyukan shalatnya. Anak ku yang masih lima tahun itu tahu apa memangnya. Dia belum berakal. Tak sepatutnya ia berkata seperti itu.”
            “Lalu apa yang kau katakana padanya?”
            “ Aku hanya menyuruhnya berkaca. Tak sepatutnya ia berbicara seperti alim ulama semantara akhlaknya tidak beres. Aku bilang bahwa ia juga tak pernah khusyuk ketika shalat. Kalau memang dia khusyuk ketika shalat, tak mungkin ia bisa bersumpah melihat pak Jamal menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat. Kalau dia khusyuk, tentu dia tidak akan melihat itu”.
            “ Lalu apa katanya?”
            “Dia hanya membisu. Aku juga sampaikan padanya bahwa Anduang Rama tak sekotor yang ia bayangkan. Anduang Rama sering mencuci mukenanya dengan sabun yang ia beli di lapau, bukan yang ia curi. Karena Anduang Rama bukan seorang pencuri seperti dia”.
            “ Astaghfirulah, Siti! Kau bicara seperti itu?”, Mak Ipah sangat terkejut.
            “ Iya, Mak. Aku sangat emosi ketika itu. Aku tidak suka diceramahi oleh orang yang tidak benar”.
            “ Lalu dia tak membalas kata-katamu sama sekali?”
            “ Dia tidak bicara apa-apa. Ia hanya diam dan berlari menuju rumahnya. Dan hingga kini ia tidak berani keluar!”
            “Sadarkah kau ucapanmu itu telah membuat luka hatinya? Apakah pertengkaran kalian itu disaksikan orang banyak?”
            “Luka hatinya tak sebanding dengan luka hatiku, luka hati orang-orang yang dibelinya dengan kata-kata kasarnya dan luka Mak Ipah juga. Semua jamaah surau menyaksikan pertengkaran kami dan mereka terkejut seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan”, jelas Siti berapi-api.
            “Aku telah memaafkannya. Sungguh, aku telah memaafkannya. Aku sudah tidak menghitung-hitung lagi berapa banyak daganganku yang ia curi dulu. Aku ikhlas. Tapi ia tak lagi menegurku, itu yang ku sesalkan. Nanti, selepas shalat maghrib aku akan datang ke rumahnya”.
            “Untuk apa?”
            “Untuk memohonkan maaf atas ucapanmu”.
            Siti terkejut..
“Untuk apa, Mak. Bukankah dia yang salah. Dia yang bermulut kasar. Sering menceramahi orang dan dia suka mencuri dagangan Mak Ipah..
“Itu dulu!” jawab Mak Ipah tegas, memotong pembicaraan Siti. Wajah Mak Ipah mulai menunjukan ketidaksenangan. Diraut wajah tuanya, tergurat penyesalan teramat dalam karna telah menceritakan keburukan Mak Mun dimasa lampau, beberapa waktu lalu pada Siti dan beberapa orang kampung lainnya. Mak Ipah tidak menyangka bahwa cerita itu akan sampai ke telinga Mak Mun dan membuat ia  tak lagi mau keluar rumah, pergi ke rumah orang barelek bahkan untuk shalat ke surau sekali pun.
Mak Mun kini terus menutup diri. Tak seorang pun boleh menemuinya. Mulutnya terkunci oleh ceramah-ceramah agama yang ia sering sampaikan sendiri. Sindiran-sindiran yang ia lontarkan dengan begitu tajam selama ini kini balik menyerang. Sebuah goresan hitam Mak Mun di masa lalu mampu menenggelamkan pernyataan-pernyataan maha angkuhnya. Kini, Mak Mun telah hilang. Hilang tertimbun dalam rumah mewah oleh harta benda yang anak-anaknya carikan di rantau orang.
##  

Selasa, 31 Maret 2015

Aku Dan Setapak Impian Untuk Ranah Minang



Seuntai Mimpi Anak Pesisir Pantai
Oleh Netri Olala
Mengawali tulisan ini, berdosa rasanya jika tidak menyampaikan salam resah dari nelayan di kampungku yang beberapa hari ini tidak melaut karena badai cukup kencang menyerang. Salam dari perempuan-perempuan tua yang dipaksa tangguh yang tengah mengucek matanya nan perih oleh asap tungku. Tungku yang mereka pakai untuk menyangrai buah melinjo yang nantinya akan dibentuk menjadi emping. Juga salam dari buruh tani yang khawatir karena sang tuan lebih suka menjual sawahnya untuk dijadikan lahan perumahan ketimbang mengharapkan hasil panen.
 Aku hanya mahasiswa bau buku, yang hari ini coba menulis tentang mimpiku untuk kota kecil ini. Sedikit mengingatkan, kota yang memilih memisahkan diri dari kabupaten Padang Pariaman sejak 12  tahun lalu ini dikenal sebagai kota sepi. Tak ada investor. Orang Cina dilarang datang untuk menetap dan membuka usaha. Tak ada pabrik besar yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Selain pekerjaan masyarakatnya yang melaut dan bertani, ada beberapa pantai yang diandalkan sebagai objek wisata. Berharap  masyarakat sekitar mendapat penghasilan dari berjualan.
Namun, yang belakangan terjadi adalah banyaknya kedai nasi tutup ulah sepinya pembeli. Pengrajin souvenir khas kota ini satu demi satu pensiun dini. Kusir bendi (delman) keberadaannya kini bisa dihitung dengan jari. Tak ada yang mau naik bendi. Pengunjung datang dengan mobil pribadi, membawa rantang dan tikar sendiri. Tak sedikit juga yang sudah membawa air mineral lengkap dengan makanan kecilnya. Lalu masyarakat sekitar dapat apa? Dapat sampahnya.
 Jangan berharap banyak anak muda penggerak ekonomi kreatif di kota ini. Banyak pun pun mencoba, usaha itu mati oleh ketiadaan pembeli. Di kota ini Hanya  ada beberapa sekolah tinggi yang dikelola swasta. Jumlahnya mahasiswanya pun tak banyak. Jadi untuk apa cafe dibuka jika hanya akan ditutup nantinya. Untuk apa outlet fashion dibuka jika penjaganya hanya akan mengantuk sambil menatap item-item yang tak kunjung berkurang dari tokonya. Mengharap pegawai negeri yang berjumlah 10 persen dari penduduk kota ini berbelanja pun percuma. Jika memiliki uang lebih tentu mereka memilih belanja ke kota Padang dengan harga yang lebih bersaing dan pilihan yang lebih variatif. Alhasil, pemuda di kotaku banyak memilih pergi merantau. Berharap mengais sesuatu yang lebih baik di kota besar. Kotaku semakin sepi!
 Selama ini mimpiku untuk kota ini seperti tergulung ombak. Harapanku  seolah tertimbun pasir. Mimpiku sederhana. Aku hanya bermimpi sebuah Universitas Negeri berdiri di kota ini. Selain pemuda kota Pariaman, akan datang mahasiswa dari Mentawai, Jambi, Riau, Aceh, Palembang dan daerah lainnya. Tentu mereka membutuhkan tempat tinggal yang bernama kos-kosan yang akan dibangun oleh masyarakat sekitar nantinya. Penjual nasi, sala lauak, gorengan, minuman dan tebu keliling akan tersenyum bahagia karena dagangannya laku dibeli para mahasiswa. Tukang ojek tak lagi muram karena telah berpenumpang mahasiswa yang minta diantar kesana-kemari.
Lalu disebuah sudut pantai Gandoriah berdiri megah perpustakaan kota yang didalamnya terdapat referensi yang dibutuhkan pelajar dan mahasiswa. Selesai membaca mereka akan pergi ke bibir pantai dan menikmati segarnya es kelapa muda. Pantai wisata akan ramai. Masyarakat sekitar tak lagi dapat sampah, tapi penghasilan dari uang yang mereka dibelanjakan.
Ketika libur semester tiba, para mahasiswa yang berasal dari luar daerah  Pariaman akan pulang ke kampung halaman masing-masing dengan membeli emping melinjo sebagai oleh-oleh. Tentu perempuan-perempuan tua yang dipaksakan tangguh yang ku sebutkan di awal tersenyum bahagia meski masih dengan mengucek mata yang perih oleh asap tungku ia melakukannya.
Suatu waktu, keluarga mahasiswa dari luar daerah akan datang ke kota ini untuk mengunjungi anaknya seraya berlibur. Mereka akan mengitari pantai dengan Bendi, Lalu mampir ke salah satu cafe dengan hidangan lautnya. Para nelayan akan bersemangat lagi mencari ikan. Usaha-usaha penginapan pun tentu akan berkembang pesat.
Terpenting, dengan berdirinya sebuah universitas Negeri di Kota ini, aku tak akan kehilangan teman-teman yang harus pergi ke kota besar untuk menimba ilmu. Sehingga aku mempunyai teman untuk berdiskusi tentang pertumbuhan kota ini dari berbagai segi. Bersama-sama mengawasi kinerja pemerintah kota dari berbagai aspek. Sedikit banyaknya pemikiran masyarakat akan tersentuh oleh pikiran rasional kalangan mahasiwa. Hingga jika ada keganjilan, masyarakat dan mahasiswa akan menggebrak meja pemangku kepentingan. Aku tentu canggung jika ‘bersuara’ sendiri.
 Begitulah mimpiku. Sebuah mimpi sederhana yang mempengaruhi banyak hal.untuk kota ini. Jika terkesan konyol, maafkanlah anak pesisir pantai ini. Aku hanya ingin Pariaman menjadi ramai tak hanya saat Batabuik. Menjadi daerah rantau yang  tak melulu merantau penduduknya. Menurut Tom Pires di dalam bukunya, Pariaman dulu menjadi pelabuhan terpenting di pantai Barat Sumatera, Kenapa sekarang tidak? Menurutku yang hanya seorang anak pesisir pantai ini di dalam pikirannya, hal tersebut bisa terwujud kembali salah satunya dengan berdiri kokoh dan megahnya sebuah Universitas Negeri di tanah Sabiduak sadayuang ini.  


Jumat, 30 Januari 2015

Sadari Atau Lewati (ada) Ku



Kau terlihat begitu muram. Memang bukan tanpa alasan. Dia, yang kau cinta pergi begitu saja. Bagi pria sedewasamu, mungkin kau sudah berencana menikahinya. Aku mengagumimu karena kekuatanmu mengubah apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Cinta memang mampu merapuhkan apapun, termasuk kuatmu. Sehingga aku terkejut oleh lemah yang kau tunjukkan dengan begitu serampangan.
Ayolah, jangan larut dalam pusaran penyesalan! Angkat kepalamu! Jangan lagi terpekur seperti itu. Ketahuilah, saat kau bersedih dicampakkannya, di saat bersamaan aku terus merayu Tuhan agar IA sampaikan bahwa disini ada aku yang siap menyeka air matamu. Saat kau terus mengikuti bayang dia yang semakin samar, disini ada aku yang berusaha terlihat olehmu. Jika karena satu atau dua kekuranganmu yang menjadi alasan kau ditinggalkan, ketahuilah, disini ada aku yang sangat mengagumi banyak kelebihanmu. Selamat mencoba menyadari hal itu. Jika tak bisa, abaikanlah! Mungkin menurutmu ini tak lebih dari sebuah lelucon konyol.
Pariaman, 30 Januari 2015, saat rintik hujan turun dengan ragu-ragu
@Netriolala


Selasa, 11 November 2014

Ingatlah, Mantan!


Handphoneku berbunyi petanda ada telepon masuk. Ku lihat di layar, tertera nomor ponselmu. Ya. aku masih ingat betul bahkan sangat-sangat ingat nomor ponselmmu. Aku menarik nafas seraya bertanya sendiri, ada apa hingga kamu menelponku?

            “Halo” ucapmu di ujung telpon. Aku masih terdiam. Hingga kamu mengulang sekali lagi barulah aku membalas.
            “Ya halo. Ada apa?” tanyaku sebiasa mungkin.
            “Ada Tabuik di kotamu hari minggu kemaren kok diem-diem aja? Nggak ngajak-ngajak!”
            Aku tertegun ditodong pertanyaan itu.
            “Salah sendiri kenapa nggak kesini”
            “Pengen sih tapi nggak ada yang dilihat disana”
            “Lho, kan ada Tabuik yang bisa dilihat”
            Kamu pun terdenger tertawa di ujung sana mendengar perkataanku.
            “Apa kabar sekarang?” tanyamu mengalihkan topik pembicaraan.
            “Nggak ada. Lagi santai-santai aja”
            Aku berusaha tak balik bertanya tentangmu.
            “Kapan wisuda?”
            “Masih lama?”
            “Bukannya sekarang?”
            “Ditunda”
            “Oh”
            Kita berdua sama-sama hening.
            “Gimana kabar ibu?” tanyamu setelah lama diam.
            “Baik”
            Aku bahkan tak berniat sedikitpun menanyakan kabar ibumu.

            Aku tak ingin larut dalam percakapan ini. Dan mengulang kebodohan lagi. Aku berharap kamu segera mematikan telpon. Tapi kamu malah terus berusaha membuatku bebicara panjang lebar. Persis seperti dulu. Tapi sekarang, aku tak lagi bisa bercerita tentang apa yang ku lihat, dengar dan rasakan padamu. Kamu sendiri yang merubahku menjadi tertutup padamu.
            “Aku pengen makan bakso di tempat yang biasa kita makan” katamu lagi.
            “Ya udah makan aja”
            “kamu mau nemenin nggak?”
            “Aku di Padang sekarang”
            “Ngapain?”
            “Kerja”
            Aku terpaksa berbohong agar mempunyai alasan untuk menolak permintaanmu. Aku tak menghendaki pertemuan itu. Ibuku juga tak akan lagi sudi melepasku pergi bersamamu.
            “Oh. Udah punya pacar, ya, sekarang. Anak mana?”
            “Adalahh” jawabku penuh teka-teki. Aku membiarkanmu menebak-nebak.
            Tiba-tiba ibu memanggilku. Aku tak mau suara ibu terdengar olehmu. Aku segera mematikan telfon. Tak lama kemudian kamu menelfon lagi.
            “Ya?”
            “Kenapa dimatiin?” tanyamu protes.
            “Oh tadi pacarku nelfon..mmm..udah dulu, ya, nanti dia mau nelfon lagi soalnya..” aku  berbohong.
            “Oh ya udah” kamu mengucap salam lalu mematikan telfon.

Aku benar-benar tak puya alasan lagi untuk masuk ke kehidupanmu, mantan. Di saat kamu memutuskan untuk mengakhiri “kita” aku berjuang keras untuk menahan inginku untuk menelfonmu. Ku nikmati tiap tetes air mata rindu. Ketika air itu sampai pada hati yang luka, rasanya amat pilu. Tapi sekarang, kamu mungkin punya banyak alasan untuk menghubungiku lagi. Mungkin kamu bosan dengan wanita yang telah merebutmu dari ku itu, hubungan kalian berakhir, atau kamu hanya coba mempermainkanku sekali lagi. Aku sempat berubah wujud menjadi wanita yang tolol ketika memaafkan dan memaafkan setiap kebrengsekan demi kebrengsekan yang kamu buat. Aku berulang kali memberi kesempatan, namun sia-sia tak berguna.
Sekarang aku tak ingin menjadi Netri yang bodoh lagi. ketika kamu memilih menyakitiku dengan sangat sadis, disaat itulah sebuah keyakinan menguatkanku bahwa;aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu.
Ingatlah ketika kamu dengan perempuan barumu mencaci maki aku. Ingatlah ketika kalian tertawa di atas pedihku. Ingatlah ketika aku memohon hatimu lagi untukku waktu itu, tapi kamu malah menamparku dengan sangat keras lewat sebuah kenyataan bahwa kamu mantap memulai kisah baru dengan perempuan serampangan itu. Bukan ingin mengajarimu menjadi pendendam. Tapi aku hanya ingin kamu belajar bahwa tak selamanya wanita itu bodoh oleh cinta. Hingga kamu tak lagi melakukannya pada wanita lainnya.

                                        Pariaman, 11 Novermber 2014 ketika, rintik hujan berjatuhan dengan manjanya..

@Netriolala


Image By Google