Rabu, 03 Februari 2016

Sedikit Tentang Rizal dan Aini

Sejak 2013 lalu, saya mulai menulis sebuah novel yang terinspirasi oleh tradisi "Bajapuik" yang ada di Pariaman. Ketika itu saya masih kuliah semester 6. Karena sibuk dan berbagai alasan lain, akhirnya naskah novel tersebut terbengkalai. Belum lagi skripsi yang menguras otak dan energi. Sampai pada tahun 2015 saya mendapat ajakan untuk mengikuti seminar dan motivasi menulis yang diadakan oleh penulis muda asal kota Pariaman, saya juga mengikuti lomba menulis artikel bertema impian terhadap ranah minang yang beliau adakan. Hingga akhirnya tulisan saya keluar sebagai pemenang kedua untuk kategori umum (lomba lebih diprioritaskan kepada pelajar sepertinya). Atas menangnya tulisan saya, saya diganjar hadiah berupa paket buku yang beliau tulis. Dan betapa terkejutnya saya ketika membaca salah satu novel beliau yang terbit tahun 2014 yang bertemakan adat bajapuik di pariaman juga, meski latar cerita kita berbeda. Sempat patah hati, dan berniat tidak lagi menulis naskah novel ini. Karena saya takut dituduh plagiat ide seseorang yang sudah duluan terbit. Namun setelah saya kaji-kaji kembali, meskipun sama-sama terinspirasi oleh tradisi yang sama, cerita kami amat berbeda. Saya mengambil latar 80-an sementara yang bersangkutan mengambil seting masa kini. gaya bahasa yang kami gunakan pun sangat berbeda. 

Mengapa saya mengambil seting 80-an? Karena pada masa itu cinta si kaya dan si miskin sulit berdamai dengan uang jemputan. Sudah ah, tidak ingin terlalu banyak cerita. Mohon doakan penulis malas ini sanggup menyelesaikan novel ini sesegera mungkin.

Di bawah ini adalah sepenggal kisah Aini dan Rizal yang rumit dan mengharu biru saya tuliskan. Penggalan cerita ini ibarat jendela untuk dapat mengintip sedikit kisah Aini dan Rizal. Silahkan baca dan mohon komentar membangunnya..

***

“Saat aku bergegas meninggalkan kampung halaman untuk pergi ke rantau orang, setiap lipatan kain ku pertegas disaat itulah hatiku mempertegas bahwa aku serasa tak sanggup meninggalkan Aini. Hendakku menangis, tapi air mata laki-lakiku tak keluar. Dan, saat  pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, pada saat itu ingin rasanya aku membalikkan badan untuk kembali ke kampung halaman demi mewujudkan mimpinya mempunyai rumah besar sebesar rumah pasir yang ketika kecil ku buatkan untuknya. Bukankah itu kasih sayang, apak? Aku ingin segera membahagiakannya. Keinginan itu membuncah di dada setiap hari dan menyiksaku selama berada disini. Aku ingin segera menikahinya. Setidaknya jika belum selesai rumah untuknya ku buatkan, aku bisa memperbaiki rumah orang tuanya yang tirih atapnya”

            Apak terkesima mendengar jawaban Rizal. Ia tak menduga Rizal tumbuh besar menjadi laki-laki yang tak hanya gagah rupa, namun juga gagah hati dan pemikirannya. Hanya saja masih ada semburat ragu terhias di wajah Apak. 

“Mungkin tadi Apak lupa memberi tahu mu Rizal. Apak berani datang ke rumah orang tua Andemu untuk meminta mereka menanyaiku kerumah orang tua Apak, karna Apak adalah anak saudagar kaya di kampung. Apak tak punya alasan untuk canggung bergaul dengan keluarga besarmu yang seluruh orang Piaman mengenalnya sebagai keluarga kaya raya”.

            “ Apakah kaya, menjadi syarat yang diajukan keluargaku untuk meminang keturunan keluarga kami, Apak?”
            “ Tidak tersurat diajukan, tapi tersirat untuk orang-orang kampung maklumkan. Keluarga mu yang kini juga telah jadi keluargaku, adalah orang terpandang, Rizal. Apa kau lihat kakak-kakakmu beristri atau bersuami orang biasa-biasa? Juga Ande-Ande dan Mamak-mamakmu, apa mereka bersuami atau beristrikan orang miskin? Tidak! Terlebih kau anak bungsu. Jika dirasa patut kau untuk dicarikan jodoh, tentu meraka akan mencari gadis tercantik di nagari Pariaman, juga dari keluarga terpandang. Tak sedikit rupiah digelontorkan untuk membuat alekmu nanti, Zal. Akan berpesta tujuh hari tujuh malam kita di kampung”, terang Apak Rizal panjang lebar. Mendengar pernyataan itu, alangkah gusar hari Rizal. Ia terdiam. Baru tadi rasanya hatinya diterbangkan oleh Burung Merpati putih sampai kelangit ketujuh. Sekarang, hati itu dihempaskan dari langit setinggi itu ke tanah. Rizal tak punya kata-kata lagi. Apak Rizal mengamati raut wajah adik Iparnya itu penuh prihatin. Prihatin mengenang cinta adik iparnya yang akan jauh panggang dari api.

            “ Jadi sekarang, apa Apak ingin menyuruhku untuk melupakan gadis itu dan tidak melakukan hal yang serupa dengan Apak dahulu ketika hendak menikah dengan Ande? Apa apak tak lagi berniat mengabarkan perihal hatiku ini pada Apa dan Ama dikampung? Kita tidak akan pulang kampung satu bulan lagi, Apak? Benar begitu?”, pertanyaan Rizal bertubi-tubi pada Apaknya setelah sadar dari diam.

            “ Bukan. Bukan Apak hendak membunuh cintamu, Rizal. Apak hanya ingin memberi tahu. Dari pada kau menangis nanti, tak apalah kau menangis kini. Apa yang apak sampaikan tadi belum ditambahi dengan adat dan tradisi di kampung kita, Zal. Kau tahu kan dikampung kita anak laki-laki itu dibeli oleh perempuan. Uang jemputan atau uang hilang istilahnya. Uang itu dibayarkan kepada laki-laki oleh perempuan sebelum menikah. Jumlah uang jemputan itu tergantung pada permintaan mamak-mamak laki-laki besar kecilnya. Semakin tinggi pangkat atau bagus pekerjaan kemenakannya, semakin tinggi pula uang jemputan itu mereka beratkan pada anak perempuan yang menghendaki kemenakannya untuk dijadikan suami. Seperti kau ini, Zal, sekolah mu tinggi, bapak mu Tuan Bagan di Pariaman. Bagannya tak hanya satu, tapi banyak dengan ratusan anak ula nya. Apa mamak-mamakmu meminta uang dengan jumlah yang sedikit pada keluarga Mira, Zal?”.
           

Minggu, 31 Januari 2016

Pesan Cinta Untuk Pemuda Kota Pariaman


“BERI AKU SEPULUH PEMUDA, MAKA AKAN AKU JADIKAN PREMAN DI KAWASAN WISATA!”

            Saya tidak sedang membecandai Soekarno dengan membuat plesetan atas seruannya yang amat terkenal tentang pemuda:

“BERI AKU SEPULUH PEMUDA MAKA AKAN AKU GUNCANG DUNIA!”

Saya tidak sedang melucu, karena permasalahan ini bukan lelucon. Ini masalah serius. Ini masalah mental. Tulisan ini berangkat dari patah hati saya karena pemuda dalam seruan Bung Karno yang tak lagi terepresentasi oleh pemuda kini. Saya tidak berani berbicara tentang pemuda Indonesia. Saya hanya ingin berbicara tentang pemuda di kota saya. Dimana sebagian dari mereka kini lebih memilih menjadi “tukang parkir” dan “petugas kebersihan” dadakan!
Lewat tulisan ini, saya ingin berkirim pesan cinta…

"Teman-temanku, pemerintah kota tengah berbenah di sektor wisata. Di sepanjang pantai Nareh hingga pantai Kata, sedang dipercantik agar indah dipandang mata. Tujuannya tak lain adalah wisatawan domestik hingga mancanegara datang ke kota kita. Pendapatan daerah bertambah, dan perekonomian masyarakat sekitar ikut menggeliat. Ada pedagang nasi sala, nasi sek, sala lauak, es kelapa muda dan pedagang-pedagang kecil lainnya yang menanti pengunjung pantai datang membeli dagangannya. Lalu, apa dengan uang palak bartameng uang parkir atau uang kebersihan yang kalian minta, kalian tega memupuskan harapan mereka? 

Kontribusi kita terhadap pariwisata kota tercinta ini bukan itu. Peran kita sebagai masyarakat lokal adalah menjaga kenyamanan pengunjung dengan ramah tamah agar dikemudian hari mereka kembali lagi, bukan meminta uang kebersihan dimana mereka duduk santai menikmati makanan yang mereka bawa. Bukan meminta uang parkir di setiap titik mereka berhenti untuk mengambil foto.

Jika di kampung kita dibangun spot wisata baru, dukung siapa saja yang punya inisiatif selagi positif. Bukan memusuhi dengan mengambil alih apa yang sudah dibangun yang kita belum tentu bisa handle semuanya. Bukan “Iko kampuang den, aden nan bagak. Waang sia?”

            Jika begini terus, kapan Pariaman akan maju? Kemajuan sebuah kota bukan tercermin dari pembangunan fisik saja, namun juga mental masyarakatnya.

            Kenapa kita tidak bisa kreatif seperti pemuda Bandung, Yogyakarta, ataupun Bali. Mereka membuat souvenir khas daerah mereka. Mereka beradu kreativitas dengan menciptakan clothing line sendiri yang tidak dibanderol harga tinggi, hingga semua wisatawan dapat membawa pulang buah kreativitas mereka. Mereka tidak sekedar duduk-duduk di kawan wisata lalu menjadi tukang parkir liar atau petugas kebersihan dadakan untuk mengeruk uang pengunjung saja. Be open minded people, please! Jika wisatawan menjadi enggan mengunjungi (lagi) kota ini, maka jadilah Pariaman kota mati.

            Teman-teman, kalian yang melaut, teruslah melaut. Cari ikan yang banyak lagi segar. Jual pada pemilik rumah makan. Kalian yang dulunya tukang ojek motor yang sepi penumpang, jadilah tukang bendi agar wisatawan bisa menyusuri pantai lewat jasa kalian, dan mintalah tarif normal saja. Kalian yang masih sekolah atau kuliah teruslah sekolah dan kuliah, Pariaman butuh pemikiran kalian ke depan. Kalian yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan, belajarlah membuat miniatur kapal Dewaruci pada Angah Black. Jika Bali punya patung Legong keraton, Pariaman punya kapal Dewaruci. Bukan bermaksud menggurui, hanya memberi usul tanda peduli. Salam cinta, salam damai, dan salam perubahan."
                       
                                                                                                                                                                                                                                                                             Netri Olala, 24 Januari 2016


Sedikit Catatan: Silahkan copas tulisan ini dengan masih mencantumkan sumber aslinya!

Minggu, 24 Januari 2016

Perkenalkan Pulau Bando, Karena Pariaman Tak Melulu Soal Pulau Angso Duo

Jika kamu seorang taveller, terlebih pengagum pesona laut, maka lengkapi album travelling kamu dengan mengunjungi salah satu pulau yang berada di Pariaman, yakni pulau Bando. Pulau Bando adalah pulau yang masuk pada perairan kota Pariaman namun dinyatakan milik Provinsi Sumatra Barat karena tidak dikelola oleh pemerintah Kota. Pulau Bando memiliki luas kurang lebih 7,2 hektre dan masih terbilang asli karena ditumbuhi pohon kelapa dan beberapa tumbuhan lainnya.

Namun, ketika rombongan kami yang dikepalai oleh Bpk. Indra Jaya Piliang berkunjung ke pulau yang satu jam lebih perjalanan dari Tiram Ulakan, Padang Pariaman ini, kemarin (23/01/16), terlihat pulau ini tengah dipercantik dengan diciptakannya Landmark ‘Pulau Bando’ yang belum finish pengerjaannya, juga dikebutnya pembangunan sebuah homestay bergaya etnik dengan kayu pernis yang cantik. Terlebih dahulu, sebuah Gazebo sudah berdiri kokoh yang pada akhirnya menjadi tempat istiahat dan makan siang kami.

Perjalanan menuju pulau ini sangat ekstrim. Kapal yang kami tumpangi kerap kali mengeluarkan suara yang cukup keras ketika memecah ombak. Belum lagi angin cukup kencang menyerang, membuat kapal kami oleng ke kiri dan kanan. Saya hanya bisa berdoa memohon keselamatan dari dalam kapal, sementara bapak Indra Jaya Piliang, Bang Joze Rizal, Bang Budy Sukmadianto, Uncu Muhardi Koto dan Ramadanus Weri dengan gagahnya berdiri melawan ombak di depan kapal. Benar-benar awak kapal yang tangguh lagi baik :D.


(Berangkat dari Tiram, Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman)    
      
Setelah satu jam setengah dihempas gelombang laut, maka sampailah kami di Pulau Bando. Saya senang dan mengucap syukur masih diberi keselamatan. Paling tidak para artis orgen tidak menggelar syukuran atas ketidakselamatan saya #eh #salahfokus #maaf.

Berikut tangkapan kamera momen-momen bahagia kami di Pulau Bando.


                  
(Wajah Sumringah setelah lepas dari hempasan gelombang selama satu setengah jam)

                                                
(Berfoto di depan Landmark Pulau Bando)

Landmark-nya full colour sekali, lain dari yang lain. Anti Mainstream..



                                       
(Makan siang di Gezebo yang baru selesai dibangun)

Oh iya, mengenai kebutuhan konsumsi seperti makan dan minum kami bawa sendiri, ya, karena tidak ada pedagang yang berjualan disini. Sebelum keberangkatan dari Tiram, Ulakan, kami pesan nasi bungkus terlebih dahulu. Tapi jika kamu berangkat dengan ambil paket, makan siang akan difasilitasi penyelenggara wisata.


                             
(Kalau udah makan siang baru boleh manjat-manjat landmark gini)


     (Main pasir juga boleh :D)


                                         
(Pak Indra Jaya Piliang Memancing di laut biru Pulau Bando)


(Wawancara Pak Indra Jaya Piliang dengan seorang wartawan perihal potensi Pulau Bando)  



                                     
(Winda dengan karang-karang kecil yang indah)

Jika kamu berkunjung ke pulau ini, mohon tetap jaga keseimbangan alam, ya! Karang-karang kecil yang menjadi ornamen sepanjang pantai pulau ini jangan di ambil lalu di bawa pulang. Karena di pulau angso sudah sedikit sekali onamen-ornamen ini, padahal dulu banyak.

Keaslian dan keindahan warna laut seperti ini juga patut dijaga. Jangan buang sampah sembarangan!

(Bang Budy Sukmadianto Diving di bawah Laut Pulau Bando)

Mohon maaf jika kualitas foto kami kurang bagus, atau bidikan kamera kami kurang profesional. Tapi percayalah, kebahagiaan kami sangat maksimal.  Saya bukan travel blogger profesional, hanya sedang mencoba mengabadikan sebuah perjalanan sederhana lewat tulisan ini. Maka, ayo angkat tas kamu, kunjungi pulau Bando dan bidik dengan kamera profesionalmu agar dunia tahu pulau Bando juga memiliki potensi wisata tak kalah oleh pulau lainnya.

Sekedar informasi, pulau Bando sudah dibuka untuk umum dan jumlah pengunjung dibatasi 50 orang perhari demi menjaga keseimbangan alam di Pulau tersebut. Dan jika kamu tertarik mengunjungi pulau Bando silahkan hubungi Budy Sukmadianto di nomor ponsel 085263877113, BBM PIN 5760FDC3 for more info.


               


Selasa, 05 Januari 2016

Tertibkan Orgen Tunggal, Selamatkan Moral Kemenakan!




Sebuah Surat Terbuka Untuk Walikota Pariaman

            Aku hanya seorang gadis kecil yang coba menulis sesuatu padamu yang pantasnya ku panggil Mamak, bukan, Pak. Surat ini bukan suatu bentuk pembangkangan, kagadang-gadangan atau sok mengajari pandeka basilek. Sepuluh jari kemenakan susun beserta kepala, memohon maaf apabila ada kata-kata kemanakan yang patut dibimbing ini yang tidak enak Mamak baca.
            Mamak, disini aku ingin berbicara tentang orgen tunggal di Pariaman. Kemenakan kecilmu ini kini telah beranjak dewasa, hingga ketika aku menyaksikan orgen tunggal yang menampilkan biduannya berpakaian minim, seolah-olah aku yang sedang ditelanjangi, ditonton dan dijadikan objek tertawa licik para lelaki yang puas menatapnya. Aku malu!
            Hingga sebelum acara itu usai aku sudah lebih dulu pergi karena terbayang apa yang akan aku saksikan selanjutnya. Ya, seperti yang sudah-sudah, seperti yang sama-sama diketahui, seperti yang sudah mulai dimaklumi, para biduan wanita itu akan melecuti beberapa bagian pakaiannya lebih minim lagi, lebih terbuka lagi, lebih memancing hawa nafsu lagi, lalu mereka bersama pemuda-pemuda bahkan mamak-mamak yang tengah mabuk akan berpesta pora. Bergoyang seolah lupa siapa mereka. Apa kedudukan mereka. Seorang mamak akan lupa memberi contoh yang baik pada kemenakannya. Pemuda yang masih sekolah lupa akan apa tanggungjawabnya esok pagi. Dan itu berlangsung hingga pukul empat pagi. Hampir mendekati subuh. Dan hal tersebut digelar diruang terbuka.
            Maka akan sangat miris lagi ketika pagi-pagi beberapa bocah usia sekolah dasar menceritakan perihal apa yang dilihatnya dari gelaran orgen tunggal semalam yang ditontonnya itu pada teman sebayanya. Menceritakan bagaimana terbukanya pakaian biduan-biduan wanitanya. Menyebutkan nama-nama orang kampungnya yang mabuk berat malam itu, dan menceritakan siapa-siapa saja yang memeluk biduan wanita seraya memberi beberapa lembar uang saweran. Miris! Bocah sekecil itu menurutku hanya boleh bercerita tentang bagaimana ia menyelesaikan PR Matematikanya semalam. Bukan bercerita tentang tontonan tak pantas yang disuguhkan kakaknya, ayahnya, mamak-mamaknya dan tetangga-tetangganya.
            Lebih miris lagi ku saksikan di kota ini, nasionalisme pemudanya hanya sebatas gelaran orgen tunggal. Mereka menanti datangnya hari peringatan kemerdekaan demi berpesta dengan orgen tunggal  dengan goyangan eotis lengkap dengan minuman keras, lalu acara itu dikemas dengan tajuk ALEK PEMUDA. Apa dengan  begitu mereka akan tahu bagaimana perjuangan para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan mungkin lagu wajib Indonesia raya saja mereka tak tahu. Mereka lebih hafal judul lagu dangdut koplo yang membuat goyangan mereka semakin asyik dan malam mereka semakin panas. Toh kemerdekaan bagi mereka adalah sebatas bebas bermabuk-mabukan dan bebas menikmati aurat yang dipertontonkan.
            Aku bukan ahli agama, Mamak. Tapi yang aku tahu mengumbar aurat itu berdosa. Meliuk-liukan badan dengan pakaian super pendek itu berdosa. Melelang harga diri dengan beberapa lembar rupiah yang diserukan dengan pengeras suara itu amat berdosa. Minuman keras itu berdosa. Bukankah oranng Minang terkenal dengan adat istiadat dan agamanya? Lalu kenapa Pariaman kini seolah menjadi Pantura jilid dua?
            Aku teringat himbauan “Maghrib mengaji” yang Mamak serukan dulu. Lalu kenapa tak bisa mamak buat himbauan “Pariaman bebas orgen tunggal”? Jikapun rumah orang baralek dan alek pemuda harus dihibur orgen tunngal, kenapa tak tegas tegakkan aturan orgen tunggal hanya boleh hingga pukul dua belas malam saja dengan menjunjung tinggi adat kesopanan dan nilai agama?
            Aku yang bodoh ini menangkap adanya pergeseran nilai di ranah yang begitu ku sanjung ini, Mamak. Jika dulu kemenakan segan bertemu mamak di lapau, kini kemanakan dan mamak duduk bersama bermain domino. Bahkan menonton orgen dilokasi yang sama dengan kelakuan yang sama. Begitu sedih aku mendapati hal tersebut. Seolah-olah Minang kabau kini tak lagi bisa dijadikan panutan. Seolah-olah nilai-nilai kesopanan dipertaruhkan demi tameng “hiburan”.
            Lakukanlah sesuatu, Mamak! Anggaplah biduan wanita itu, pemuda-pemuda itu dan anak-anak kecil yang gemar menonton orgen tunggal itu adalah kemenakan-kemanakanmu juga yang pantas Mamak ajari hal-hal baik dan Mamak lindungi dari segala yang tercela. Tak ku minta biduan-biduan seksi itu lantas berbaju kurung, Mamak, setidaknya buat mereka lebih menghargai badan mereka sendiri. Jjika tidak bisa mamak buat pemuda-pemuda itu kembali ke Surau, setidaknya buat mereka kembali ke rumah orang tuanya lebih awal. Aku menulis surat terbuka ini bukan berangkat dari resahku sendiri. Namun dari resahnya Bundo Kanduang oleh dunia yang tak lagi “talok diaja”. Aku sadar benar, Mamak bukanlah orang yang patut dipersalahkan. Ada orang tua, niniak mamak, dan urang tuo di kampung-kampung yang harusnya lebih paham menjaga anak kemenakannya. Tapi bolehkah aku memohon, Mamak? Datanglah ke lapau-lapau tiap kampung itu, temuai tiap niniak mamaknya, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Ingatkan mereka jikalau lupa. Berbincang-bincanglah di lapau dengan mereka, sebagaimana biasa Mamak lakukan di masa-masa kampanye dulu. 
            Aku mohon diri mengakhiri surat ini, Mamak. Aku masih harus memeriksa hasil ulangan anak didikku yang mengerjakan ulangan dengan mata terkantuk-kantuk ulah orgen tunggal ‘bahoyak’ dikampung mereka semalam….
                                                                                                            Netri Olala…

Rabu, 09 Desember 2015

Partikel-Partikel Luka



Apa yang tersisa dari sebuah kepergian yang tiba-tiba? Apa yang bisa dikenang dari sebuah pengabaian yang tak disertai alasan? LUKA. Selalu luka.
Dan kini aku sedang berusaha membinasakan partikel-partikel luka itu agar tak menjadi dendam pada dia yang pergi meninggalkan tanpa alasan..
Aku sudah berusaha mencari jawab. Bahkan aku bertanya-tanya pada mereka yang tak sepatutnya memberi jawab. Sementara ia yang punya alasan, hanya diam dan memaksaku memahami keadaan yang ia sendiri menciptakan.
Pedih…
Aku merasa salah  satu bagian tubuhku dicuri ketika aku sedang lelap tidur..
Aku tak henti menangis. Sementara ia tak henti diam. Menutup rapat mulutnya. Membawa apa yang menjadi alasan ia pergi sejauh mungkin dariku.
“Aku salah apa?” tanya hatiku lirih berkali-kali. Berulang kali aku menghadapkan diri ke depan cermin. Agar aku bisa tahu apa kurangku. Namun sehebat-hebatnya aku menerka, aku tetap butuh jawaban pasti apa yang telah membuat HATINYA MATI.
(Ah, aku menulis catatan cengeng lagi!) 



Pariaman, Hari ke Sembilan Milik Desember, 2015, ketika hujan yang tak mampu membasuh luka turun.


Minggu, 05 Juli 2015

Catatan Kalut Tak Berjudul


Aku seperti berada pada sebuah ruang kosong. Aku hanya bisa melakukan dua hal. Bernafas dan berpikir; “akan kemana aku setelah ini..?”
Aku seperti terasing…
Tiada teman…
Bahkan hanya untuk sekedar bertukar fikiran.
Semenyedihkan inikah hidupku sekarang?
Atau aku yang baru menyadari, bahwa dititik inilah, kehidupan baru dimulai?
Sebulan yang lalu aku baru saja diwisuda. Gelar sarjana ku peroleh. Tugas-tugas, skripsi dan segala hal berbau kuliah berakhir pada tanggal 30 Mei 2015 itu. Lalu apa yang dapat ku lakukan sekarang? TIDAK ADA! Aku hanya sibuk membuka satu persatu media sosialku. Seperti Twitter, facebook, instagram, dan BBMku. Tanpa tau aku harus kontak dengan siapa. Tanpa tahu aku ingin berkomunikasi dengan siapa. Hanya mengecek pembaruan-pembaruan mereka yang ku sebut teman, dan membiarkan handphoneku mati berjam-jam setlahnya. Sebegitu tidak petingnya hidupku!
Ku tatap ibu. Dia tak segemuk seperti beberapa tahun lalu. Diabetes menggerogoti badannya. Dalam hati lirih ku berkata “Apa yang sudah ku lakukan untuknya?”. Tak mudah seorang single parents mengantar anaknya ke gerbang pendidikan tertinggi. Ku tahu, ibuku tertatih melakukan itu. Aku merasa berdosa karena belum bisa mempersembahkan apa-apa. Baktiku baru seujung kuku. Baru sebatas mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang ku perolah untuk membelikan sekotak gula khusus untuk diabetes. Baru sebatas merebuskan daun sirsak yang ku minta di rumah tetangga untuk menurunkan gula darahnya. Lalu setiap bulannya mengantar beliau ke puskesmas terdekat untuk mengecek gula darahnya.
Sempat, terpikirkan untuk menikah. Aku takut kelak aku menikah, ibu tak lagi ada bersamaku. Namun segera ku buang pikiran picik itu. Aku belum sepenuhnya menomorsatukannya, bagaimana nanti jika aku menikah, tentu prioritasku lebih pada suami dan anak-anakku. Aku belum sepenuhnya bisa membahagiakannya. Aku belum bisa membelikan apa-apa, selain mentraktir beliau makan dari uang yang ku perolah dari menang lomba menulis. Hanya itu. Baru sebatas itu.
Aku benar-benar berada pada titik paling sedih hingga lupa bagaimana caranya meneteskan air mata. Aku berada pada titik terhampa, tanpa tahu cara meredamnya.
Ini bukan catatan seorang pengangguran baru. Tapi ini masalah, tega atau tidaknya meninggalkan ibuku untuk erangkat ke kota mengejar cita-cita. Aku begitu takut jauh dari beliau. Tapi aku juga tak ingin berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Haaahh…kalutku sudah mencapai puncaknya!!!

 Pariaman, 5/7/2015

Kamis, 02 Juli 2015

Aku, Si Ratu Ego




‘Ego!” Bukan sekali dua kali kau menudingku dengan kata itu ketika kita bertengkar.
Aku terkaum! Benarkah aku ego?
Ku tilik kebelakang dengan terus membawa tanya ‘apa benar aku ego?’ Setiap pertengkaran yang terjadi, selalu aku yang meminta maaf. Itukah ego? Setiap aku protes karena ia jarang memberi kabar, itukah ego? Ketika aku marah, dan berusaha menjelaskan apa yang membuatku marah itukah ego? Ketika aku butuh sedikit saja perhatian di sela kesibukannya itukah ego? Ketika aku berusaha menjaga hubungan ini agar tetap baik dengan memaparkan hal-hal yang tidak aku sukai itukah ego? Ketika aku melarang hal-hal kecil yang kerap kau lakukan yang dapat mengganggu kesehatanmu, itukah ego? Ketika aku menyarankan kau harus begini dan begitu demi masa depanmu itukah ego?
Ya, anggap saja itu ego. Ego seorang aku yang terlalu meninginkan yang terbaik bagimu. Ego seorang aku yang begitu takut kehilanganmu. Ego seorang aku yang terlalu menyayangimu.
Lalu,apa kau tahu apa ego terbesarku?
Ego terbesarku adalah menghubungimu terlebih dahulu dan meminta hubungan ini diperbaiki ketika kau jengah dan meminta berpisah. Ya, itu adalah ego terbesarku. Dan apa kau tahu, untuk melakukan hal itu aku berperang dengan logika dan harga diriku…
            Terimakasih..
            Egoku memanggilku keluar untuk menemukan yang lebih baik darimu. Darimu yang ‘selalu benar’ dan darimu yang membalut rasa bosan dengan melempar kalimat “Kamu terlalu ego, Netri!”
                                                                                                            Pariaman, 7/3/2015