Selasa, 26 Juli 2016

Jadilah Pejuang Antikorupsi Bersama Madrasah Anti Korupsi Kota Pariaman Angkatan Kedua!



Apa Itu Madrasah Antikorupsi
Madrasah Antikorupsi adalah produk dari gerakan BERJAMAAH LAWAN KORUPSI kerjasama antara Pemuda Muhammadiyah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Indonesian Corruption Watch. Madrasah Antikorupsi pertamakali lahir di Jakarta pada tanggal 8 Februari 2015.

Bagaimana dengan Madrasah Antikorupsi Kota Pariaman Angkatan Pertama?
Dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhamadiyah, Hijriyanto ,Deputi Data dan Informasi KPK, Nanang Farid Syam, dan Wakil Walikota Pariaman, Genius Umar, Madrasah Anti Korupsi Kota Pariaman resmi diluncurkan pada Jumat, 19 Februari 2016, bertempat  di Aula Balai Kota Pariaman. Pariaman adalah kota ke-14 di Indonesia yang meluncurkan Madrasah Antikorupsi.

Madrasah Anti Korupsi Kota Pariaman angkatan pertama telah  menggembleng dua puluh lima santri yang telah dibina menjadi pejuang anti korupsi di Kota Pariaman. Mereka telah mengikuti perkuliahan selama satu semester di gedung kampus STIT Syekh Burhanudin. Menariknya, tidak hanya kuliah dengan metode konvensional, para santri juga belajar bagaimana mengkampanyekan sikap anti korupsi kepada masayarakat kota Pariaman, melalui acara-acara menarik dan edukatif.

Abrar Aziz, ketua Madrasah Anti Korupsi Kota Pariaman yang juga ketua Pemuda Muhamadiyah Pariaman mengatakan, santri-santri madrasah anti korupsi ini telah memberikan pemahaman mengenai undang-undang Anti Korupsi, dan pengetahuan terhadap sikap anti korupsi kepada mayarakat.
           
Mengapa Saya Harus Bergabung dengan Madrasah Antikorupsi?
Korupsi telah merusak seluruh sendi kehidupan berbangsa, mulai dari ekonomi, politik hingga sosial budaya. Madrasah Anti Korupsi diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya membangun budaya anti korupsi masyarakat. Maka dari itu Madrasah Anti Korupsi membutuhkan pemuda yang mempunyai sikap anti korupsi, cerdas, kritis, kreatif dan konsekuen.

Jika Saya Bergabung dengan Madrasah Antikorupsi Kota Pariaman, Apa yang Akan Saya Dapatkan?
Sebagai calon pelopor gerakan antikorupsi Anda akan mendapatkan pelajaran tentang antikorupsi yang lebih konprehnsif dan sistematis. Tidak hanya materi, aksi nyata antikorupsi juga akan diagendakan.

Apakah Saya Harus Berasal dari Organisasi Tertentu?
Tidak! Kami welcome dengan siapa saja anak muda kota Pariaman yang kritis, aktif, dan ingin berkontribusi dalam gerakan berjamaah lawan korupsi.

Apakah dengan Mengikuti Madrasah Antikorupsi Saya Akan Terikat Dengan Organisasi Muhammadiyah?
Tidak! Tergabung dalam organisasi adalah hak mutlak masing-masing individu, tidak ada keterikatan disini.

Apa Syarat Mutlak Menjadi Santri Madrasah Antikorupsi Kota Pariaman?
Calon santri madrasah Antikorupsi harus lulusan S1 atau mahasiswa semester akhir.

Bagaimana Teknis Perkuliahan Madrasah Antikorupsi Tersebut?
Selama satu semester santri Madrasah akan mengikuti perkuliahan antikorupsi di gedung Aisyiyah, Guguak, Pariaman dengan pemateri yang berkompeten dibidangnya. Tidak hanya kuliah konvensional dengan ceramah dan diskusi, nantinya santri Madrasah antikorupsi juga akan mengkampanyekan gerakan antikorupsi kepada masyarakat. Diakhir perkuliahan, santri Madrasah Antikorupsi diharuskan menulis karya tulis tentang gerakan antikorupsi sebagai syarat lulus menjadi santri madrasah antikorupsi dan mandapatkan sertifikat kelulusan.

Jika Saya Tertarik Untuk Berbagung, Saya Harus Daftar Kemana?
Silahkan hubungi contact person  kami di bawah ini:
Netri 082383278440
Hardianti Rusadi 0823 92650609
Rakhis Rizal 082284257061




Selasa, 28 Juni 2016

Pinangan dari Selatan; Sastra yang Dibungkus Politik dan Sejarah


Membaca novel Pinangan dari Selatan, berarti tak hanya sekedar membaca kisah tokoh-tokoh di dalamnya dengan rentetan-rentetan peristiwa yang dibungkus keindahan kata. Namun juga membaca buku sejarah dengan dialog-dialog ringan dan bahasa kekinian. Dan membaca buku politik dengan suguhan intrik-intrik yang menarik. Sastra, sejarah, dan politik. Ya, Indra Jaya Piliang ‘hidup’ di ketiga unsur tersebut.

Novel adalah catatan pengalaman-pengalaman batin penulisnya. Bertahun-tahun pengalaman batin itu dirasakan, disimpan, lalu dituliskan. Butuh waktu juga untuk menyelesaikan dan menerbitkan. Sedangkan pembaca, begitu egoisnya melahap pengalaman-pengalaman batin tersebut dengan bara api penasaran di matanya. Saya, termasuk pembaca yang egois tersebut, dua hari sejak novel pertama dari Indra Jaya Piliang itu memasuki “Goa” saya, novel itu selesai saya telanjangi isinya. 420 halaman yang berkesan. 420 halaman yang mendebarkan. Serasa Gadis-gadis Selatan ikut menghantar saya ke tiap-tiap bab-nya.

Berbeda dengan film, novel membebaskan pembaca menvisualisasikan sendiri cerita yang dibaca. Visualisasi tempat, adegan, tokoh-tokohnya bebas kita tentukan sendiri dengan sedikit bantuan deskripsi penulisnya. Dan, tokoh Tentra yang tervisualisasi di alam pikir saya adalah sosok penulisnya sendiri. Tentra anak Desa dari Pariaman. Ayahnya petani. Namun berhasil menembus Universitas terbaik di Ibu Kota. Ingatan saya diantar menuju buku “Mengalir Meniti Ombak” dari penulis yang sama. Ya, itu tadi, mungkin ini adalah sebilah pengalaman batin penulisnya yang dituang dalam diri tokoh ciptaannya dalam Novel ini.

Ketika menemukan sesuatu yang ‘liar’ dalam novel ini saya bertanya dalam hati berkali-kali “Benar ini novel yang nulis Indra Jaya Piliang?” Tapi bukankah tidak harus menjadi liar untuk menulis sesuatu yang liar? Penulis yang baik pantang memalsukan ide dan gagasan hanya karena takut dicap macam-macam. Indra Jaya Piliang sukses menegaskan hal itu. Gambaran dunia malam beliau sibak lengkap dengan ornamen-ornemennya. Kehidupan paling private tak terawas mata beliau kuliti dalam novel ini terang-terangan. “Beliau tahu dari mana? Batin saya. Oh lupa, beliau pengamat yang baik. Mungkin apa yang tertuang dalam novel ini juga sedikit menjadi kajiannya dulu. Hehe, mungkin lho, ini!

Pinangan dari Selatan adalah sebuah novel yang unik. Uniknya novel ini dapat dilihat pada nama-nama tokoh yang anti mainstream; Tentra, Umangi Siberuti, Cecilia Pacitani, Uleta, Rabita, Anonina, Anggreki Ciliwungi adalah beberapa diantaranya yang terdengar aneh namun punya filosofi sendiri-sendiri. Disamping konflik menggelitik yang penuh intrik tentunya. Bahkan begitu menggelitiknya konflik yang disajikan dalam novel ini, saya harus berulangkali kembali ke halaman sebelumnya untuk dapat memahami jalannya cerita dengan baik. Alur dalam novel ini merupakan alur campuran yang seperkiandetik-nya bisa membawa pembaca ke masa lalu, kemudian diantar lagi ke masa sekarang. Imajinasi saya  berkali-kali dihempas pada dunia zaman peradaban dengan tekhnologi dan sosial media sebagai ciri, kemudian dihempas lagi menuju dunia Mitologi. Novel ini menembus dua dunia yang bertentangan waktu dan pola pikir.

Ending novel ini tidak mudah ditebak seperti novel novel kebanyakan. Saya baru sadar bahwa cerita dalam novel ini adalah cerita Habil dan Qabil anak-anak Nabi Adam dalam versi manusia-manusia selatan rekaan Indra Jaya Piliang.

Sastra entah dalam apapun bentuknya, pasti memiliki pesan yang ingin di sampaikan. Tak terkecuali novel Pinangan dari Selatan ini. Pada tiap-tiap tokoh diselipkan pesan untuk pembaca. Saya tidak mau membahasnya terlalu dalam disini. Takut tulisan ini malah jadi seperti makalah analisis novel berhalaman-halaman. Hanya saja, dapat saya sampaikan bahwa, novel ini bertitip pesan pada pembaca bahwa dendam perempuan bisa menjadi semacam alaram dalam kehidupan. Kehidupan pada orang yang menyakiti. Atau pada yang belum dan berniat menyakiti. Alarm itu  menjadi pengingat bahwa lemahnya seorang perempuan menjadi titik balik kekuatannya yang tidak terkalahkan. Perempuan bersama tubuhnya mungkin bisa dibeli namun tidak dengan prinsipnya. Wanita-wanita selatan yang tengah menaruh dendam dihatinya, tubuhnya terlihat menawan, tercium harum semerbak, namun ketika dendam itu akan dikibaskan, menawan itu berubah menyeramkan, harum semerbak itu berbau bangkai bagi yang menjadi tawanan.

Uleta, bocah kecil yang hidup di tengah kemiskinan, kemudian tumbuh besar di tengah-tengah keluarga yang memberinya kasih sayang yang cukup, makan yang cukup, juga pendidikan. Ia terkesan pada kasih sayang seorang kakak angkat bernama Hendaru. Kasih sayang yang tulus. Cinta yang membuatnya terkesima. Namun beranjak dewasa, Uleta harus menerima kejadian pahit namun nyata. Hendaru meninggal dunia di tangan preman ketika beraksi menyerang diskotik Kurva yang di dalamnya perempuan seolah tak lagi berharga dan penuh dosa. Pilunya, peristiwa itu terjadi di malam ulang tahun Uleta. Malam dimana ia menanti kakak angkatnya datang membawa bunga sedap malam kesukaannya. Meranalah Uleta kehilangan kasih sayang yang entah kemana lagi ia cari dan dapatkan. Lalu menyalalah dendam. Kehilangan Hendaru menjadi alasan Uleta mencari pembunuhnya.

Uleta menginjakan kaki di dunia malam yang sebelumnya samasekali tidak pernah terbayangkan. Meski awalnya canggung, namun pencarian siapa pelaku pembunuh Hendaru menguatkannya. Ritmi, teman sekelas yang lebih dulu menjadi wanita malam di diskotik Kurva ikut meguatkan. Selain Mami Cecilia yang bertindak sebagai germo ikut membuat nyaman Uleta di dunia barunya. Siapa sangka, tak hanya Uleta yang akan membalaskan dendam, keturunan-keturunan gadis selatan lain juga hidup dengan memelihara dendam seperti Cecilia, Rabita, dan Anonina. Tokoh Tentra yang agamis dan puitis menjadi pemanis dendam gadis-gadis selatan. Tentra disukai Cecilia, Uleta dan Anonina. Namun Tentra harus jujur memiliki segenggam rindu setelah cukup lama Cecilia menghilang dari kehidupannya.

Lalu ending cerita seperti apa yang disugukan Indra Jaya Piliang dalam novel ini? Bagaimana dengan dendam para gadis selatan? Seperti yang saya katakan di awal. Sungguh tidak tertebak. Silahkan miliki dan baca novelnya, ya :D

Netri Olala


Jumat, 10 Juni 2016

AKU MENCINTAI DALAM SUNYI


Image By Google

Apa kabar?
Semoga harimu menyenangkan..
Perkenalkan, aku adalah mata yang selalu ingin memandangmu indahmu
Aku adakah telinga yang kerap mencuri-curi dengar suaramu
Aku adalah telapak tangan yang berkeringat hebat ketika berpapasan denganmu
Aku adalah jantung yang berdegup kencang ketika melihatmu dari kejauhan
Aku adalah kaki yang ingin melangkah masuk ke dalam hidupmu
Aku adalah lidah yang kelu ketika ingin menyebut namamu
Aku, adalah aku..
 Aku, Netri, kau samasekali tidak tahu namaku bukan?

Lalu bagaimana bisa aku jatuh hati padamu?
Silahkan tanya hatiku
Tapi sebentar, saat ini dia sedang jatuh di dalam sunyi
Sejenak, berilah ia kesempatan bercengkarama dengan sunyi itu, agar ketika pulang ia bisa menjawab pertanyaanmu

Mungkin, selamanya kamu hanya akan jadi rahasia
Rahasia bahwa aku begitu ingin shalatnya kau imami
Rahasia bahwa aku begitu ingin salahnya kau nasehati
Rahasia bahwa aku begitu ingin rapuhya kau lindungi
Dan rahasia itu akan kuceritakan pada fotomu bersama pasangan hidupmu, (mungkin) satu atau dua tahun lagi.

Kamu adalah apa yang kudoakan pada Tuhan agar tidak dijadikan harapan hampa menyakitkan
Kamu adalah kenyataan yang kucoba tepis berkali-kali bahwa benar aku  telah mencinta meski hanya dalam sunyi
tapi aku masih bisa berbincang dengan Ilahi perihal memantaskan diri.

Pariaman, 10 Juni 2016

Jumat, 18 Maret 2016

SEMOGA AKU TIDAK SEDANG JATUH CINTA



                                                                Image by google
 
Badan ini sudah sering merasai karena kasih tak sampai. Pahit, asam dan hambar dari segelas cinta yang manis diawalnya sudah beberapa kali ku rasa. Pernah ku mencinta dengan segenap rasa, namun seorang janda berhasil menggoda setia kekasihku untuk ditinggalkan saja diujung tanggal ulang tahunku. Kisahku berakhir. Dan aku berjuang untuk keluar dari jerat kesedihan dengan segenap upaya.

Pernahku mencinta dengan sangat. Namun cintaku ditolak adat. Karena Minangkabau tidak membenarkan pernikahan sesuku, impianku menjunjung sunting tahun lalu, harus tutup buku. Kami lalu memutuskan berteman. Namun kemudian kami menyerah karena sisa-sisa luka dari cinta yang binasa belum bisa berdamai dengan senyuman pertemanan.

Pernahku mencintai dengan tulus hingga akhirnnya kepergian tiba-tiba menghunus hati yang baru saja mekar setelah pupus. Aku ditinggalkan tanpa alasan. Air mata menjalar mencari jawaban yang benar. Namun dia tetap melangkah berlalu dengan mulut membisu. 

Kini seorang pria hadir entah dari sudut takdir yang mana. Apakah tertakdir untuk datang menambah catatan-catatan luka, atau tertakdir sebaliknya. Entahlah! yang jelas, darahku berdesir ketika sepasang bola matanya beradu dengan mataku. Aku tidak banyak tahu tentangnya. Dulu ku tahu ia menggenggam mawar cantik sekali, lalu dilepaskannya ketia sadar tangannya penuh darah oleh duri ditangkai bunganya. Aku pun tak berani bertarung dengan waktu untuk menggantikan semburat warna bahagia yang ia miliki dulu bersama mawarnya.

Semoga aku tidak sedang jatuh cinta. Aku takut menyelam pada luka yang sama. Pergilah, aku takut jatuh cinta (lagi)!

Netri Olala
Pariaman,
18 Maret 2016
10:55 Wib


Kamis, 03 Maret 2016

Berhari Minggu Di Tiku Itu Seru


Perjalanan ke Tiku hari ini benar-benar di luar rencana. Niat awalnya malah pengin ikut pengajian. Berawal Kamis lalu, saat aku dan sahabatku Dian shalat di masjid depan kampus STIT Kampung Baru, kami menemukan selebaran berisi pengumuman akan digelarnya sebuah acara Tabligh Akbar di Mesjid Tapi Aia pada Minggu 28 Februari 2016, dengan tema "Perjalanan Setelah Kematian" terpampang nyata di dinding pos penjaga mesjid. Hebatnya lagi, pembicara pada acara tersebut adalah uztad dengan gelar yang cukup oke dan lulusan Universitas di Madinah.

Setelah hari H yang dinanti-nanti tiba, bergegaslah aku dan Dian menuju masjid tempat acara akan digelar. Namun, setelah kami tiba di masjid yang aku yakini sebagai masjid Tapi Aia, kami kebingungan kok mesjidnya sepi-sepi saja. Sesaat kemudian aku melirik Dian, dan dia pun melakukan hal yang sama saat kita berdua sama-sama membaca nama masjid tersebut; MESJID AIA PAMPAN. 

Yassalam..

Kemudian kami muter-muter nyari masjid yang dimaksud. Tapi nggak ketemu juga. Ya Allah, setan apakah yang telah membutakan mata kami #eh


Entah karena efek laper atau baper, muncul argumen Dian yang seperti ini; “Mungkin bukan Mesjid tapi aia, tapi tepi pantai” dengan polosnya. Aku pun melotot mendengar pernyataan tersebut. Tapi entah kenapa, aku seolah tersugesti oleh perkataan Dian, dan sampailah kami di Pantai Gandoriah.
Di pantai kami bertanya pada ibu-ibu yang berjualan sala lauak (makanan khas Pariaman), mengenai keberadaan Masjid Tapi Aia. Dan dengan percaya dirinya si ibu bilang masjid tapi aia ada di kampung perak, deket klinik Aisyiyah.
Singkat cerita, sampailah kami di lokasi yang dijelaskan si Ibu tadi dengan wajah sangat meyakinkan, namun tanda-tanda akan digelarnya sebuah acara tidak juga tampak disini. Kemudian kami pergi ke Taratak, mungkin maksud si ibu mesjidnya deket rumah sakit Aisyiyah, namun hasilnya pun sama.
Kami pun menyerah!

Ampuni Aim ya Allah yang terlalu cepat menyerah.
**


Sejurus kemudian kami mulai berdiskusi, akan kemana kaki ini melangkah. Perut pun mulai keroncongan. Sempat berniat untuk makan nasi sala Uni Esi yang terkenal di Pantai Cermin Pariaman itu, tapi buru-buru niat itu kami kubur dalam-dalam mengingat seperti apa ramenya itu warung nasi hari Minggu begini. Hingga tercetus ide untuk coba makan siang di Tiku. Gegara dulu pernah dipanas-panasin Dian Permata (teman satu lagi) yang cerita makanan di Tiku enak-enak, maka nekatlah kami melakukan perjalanan ke Tiku, berhubung ada sahabat semasa kuliah kami Anggela tinggal disana. Kebetulan posisi kami pada saat itu tepat di simpang empat Jati, jadilah kami langsung belok kiri. Mudah-mudahan ini bukan jalan menuju kesesatan.

Tiku dilepas oleh Pariaman dan dihadiahkan pada Kabupaten Agam sejak 16 tahun lalu, kalo nggak salah, sih. Namun bicara adat, seperti bajapuik misalnya, Tiku masih memegang teguh tradisi ini sebagaimana Pariaman. Jauh dekatnya Tiku, itu relative, ya. Kalau kawan-kawan naik jet pribadi mungkin bakalan deket. Kalo dengan jalan kaki, akan terasa jauh dan lama. Dan kami, dua ibu-ibu pengajian gagal, menggunakan motor, jadi yah lumayan. Dibilang jauh, nggak jauh-jauh amat, dibilang dkeet juga nggak deket. Ada yang bisa lebih bisa menyederhanakan bahsa saya ini, behubung saya lupa mencatat berapa menit perjalanan saya dari Pariaman menuju Tiku? Tapi kira-kira 1,5 jam dari Pariaman ke arah utara.

Sampai di suatu daerah yang saya yakini adalah Tiku karena ada tulisan mutiara-mutiaranya (konon kabarnya di Tiku pantai yang terkenal bernama Pantai Tanjung Mutiara) saya mulai plangak-plongok nyari rumah yang di depannya ada tower deket MTSN Tiku, menurut informasi dari Anggela beberapa tahun lalu. Gila, ya, nyari rumah orang berbekal informasi beberapa tahun yang lalu. Ya tapi mau bagaimana, BBM ataupun nomer handphone Anggela nggak aktiv pada hari itu. 

Nyari hingga dehidrasi pun rumah Anggela nggak juga ketemu. Lalu ketika kami bertemu gapura;selamat datang di objek wisata Bandar Mutiara, saya pun memutuskan berhenti mencari rumah Anggela dan berfikiran mau menikmati alam Tiku berdua saja #eh

Tepat di depan portal setalah masuk dari gapura objek wisata Bandar Mutiara, kami diteriaki seorang bapak-bapak, disuruh berhenti. Beliau mengeluarkan kertas kercil warna merah jambu, aih romanis sekali bapak ini. “Delapan ribu untuk dua orang” katanya sambil menyodorkan kertas yang beliau klaim sebagai karcis masuk, bukan surat cinta.

Sambil ngedumel dalem hati kenapa masuk pantai ini berbayar, kami terus menyusuri pantai tersebut. Mata kami mencari-cari apa istimewanya pantai ini dibanding pantai-pantai lain yang masuknya malah gratis. And there is no something special here. Pantainya sepi. Maaf, banyak sampah bertebaran, dan benar-benar di luar espektasi. Kami tertipu indahnya gapura pemirsa. 

Tidak puas hati, aku bertanya pada bapak-bapak yang sedang istirahat sehabis melaut sepertinya, dan betapa kagetnya ketika si bapak bilang ‘Ini belum sampai Tiku. Masih di Bandar. Pantai yang rame itu di Tiku, Pantai Tanjung Mutiara namanya” denger ini langsung lemes. 

Tidak mau menyia-nyiakan waktu, kami bergegas melanjutkan perjalanan. FYI, Tiku itu bener-bener jalannya lurus nggak ada belok-belok, jadi tinggal lurus aja sampai ketemu gapura Pantai Tanjung Mutiara. Namun di tengah-tengah perjalanan, Dian mendapatkan Hidayah. Dia berhasil menemukan plang bertuliskan MTSN Tiku. Meski harus nanya kesana kemari dulu persis kaya Ayu Ting-Ting nyari alamat palsu, but Yeeeay nasib kami lebih sedikit beruntung di banding Ayu Ting-ting karena berhasil menemukan rumah Anggela, meski Anggela terlihat sedikit shock melihat kedatangan dua ibu-ibu Majlis Ta'lim yang lebih mirip sandera Gafatar yang melarikan diri ini.

Muka yang udah gosong diterpa sinar matahri, haus, lemes, laper, langsung hilang seketika ketika kami diajak makan siang di salah satu rumah makan paling enak dan paling rame di Tiku. Nama rumah makannya Takana Juo. Iya, uda juga masih takana juo kok #eh #laperbaper

Beginilah bentuk hidangan di rumah makan ini pemirsa..


Sekilas memang seperti hidangan di rumah makan pada umumnya. Itu Karna dua menu spesialnya belum dateng.

Ini nih menu spesialnya...Gulai Lokan.


Please, jangan fokus ke botol beer, yang jadi background foto gulai Lokannya, ya teman-teman. Air yang ada di dalam botol beer tersebut adalah air cuci tangan. Bukan berarti habis makan gulai lokan terus minum beer, bisa semaput akika. Jangan tanyain, kenapa air kobokannya harus diisi di botol beer? Dapet botol beer-nya dari mana? Sumpah, lupa nanya karna udah nggak sabaran pengen makan semua hidangan di rumah makan ini.

Selain gulai lokan, ada lagi sate lokan.




Lokan atau karang memang banyak terdapat di Tiku selain Langkitang dan Pensi. Makanya semua rumah makan di Tiku berlomba-lomba mengolah lokan seenak mungkin, untuk menarik pembeli. Dan rasa gulai lokan plus sate lokannya di rumah makan ini, saya kasih nilai 10. Enak bangeeeeeeeeeeettt!!!

Eittss, jangan berpikir semua yang kami makan ini akan dibandrol dengan harga yang bikin kantong bolong. Puas nyobaain menu ini itu bertiga, cukup bayar  Rp. 71.000 aja udah ditambah es teh. Pantesan rame, ya. udah enak, ramah kantong lagi. Apa lagi kantong pengangguran. Menurut info dari Anggela, kalo mau nyobain makan disini, datengnya harus cepet-cepet. Sekitar jam tiga-an mungkin semua menu udah habis. Pas kami dateng aja, sate lokannya udah dinyatakan pemilik rumah makan habis. Sampai-sampai Anggela nggak tega lihat wajah memelas kami, sate lokan di meja sebelah pun bisa beralih ke meja kami. Dan kalau teman-teman pas main ke Tiku dan mau nyobaain makan disini, silahkan banget. Rumah makannya berada disamping SMP I Tanjung Mutiara. Dari jalan Raya, cuma masuk ke dalem dikit. Ketemu deh rumah makannya.

Abis nyobain makanan khas dareh yang dikunjungin, nggak afdol kalo nggak ngunjungin tempat wisatanya. Pengen tahu tempat nongkrong anak-anak hits Tiku ini dimana. Kami pun diajak ke Pantai Tanjung Mutiara, yang dari tadi kami cari-cari. Sekilas nggak ada yang beda sih sama pantai Gandoriah Pariaman. Masuk pantai ini gratis, tidak dipungut bayaran. Kuliner yang disuguhkan di pantai ini juga sama dengan pantai-pantai lainnya, yaitu pensi, langkitang sama sala lauak gitu. Mungkin yang bisa bedain pantai Tanjung Mutiara Tiku ini sama Pantai Gandoriah ini adalah lautnya yang kalo lagi surut bisa kelihatan terumbu-terumbu karangnya. Kalo liat langsung lebih jelas.



Habis kongkow-kongkow cantik di bawah payung yang tidak ceper dan warna-warni namun bukan lambang LGBT, kami menuju pasar Tiku yang menurut Anggela ada bakso yang enak banget. Tau aja aku pecinta bakso. Sukses deh dibuat penasaran. Meski perut udah kenyang banget. Tapi sumpah, bakso ini memang enak. Bakso Mas Anto namanya. Lokasinya di deket jalan raya sih, belum masuk pasar. Kalau ke Tiku, cobain deh makan bakso disini.

Rasanya belum puas nyobain banyak makanan di Tiku (emang dasar tukang makan). Someday pengin balik lagi. Berhari Minggu di Tiku itu seru, lho. Yuk ke Tiku, cobain kulinernya. Tengkyuuu Anggela. Salam cinta, Netri Olala..

29 Februari 2016

Selasa, 01 Maret 2016

" Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?"





Terkadang, kita iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Teman memilikipekerjaan bagus kita iri. Dia punya sepatu, tas, dan kendaraan baru, kita tak terima dan sibuk menolak untuk mengakui keberhasilan pencapaiannya dengan mengumpat diri sendiri yang dinilai belum mampu menyaingi keberhasilannya. 

Iri atas pencapaian orang lain berangkali terjadi karena kurangnya rasa syukur kita terhadap apa yang telah dianugerahi oleh Allah kepada kita. SAYA BUKAN AHLI AGAMA. Pemahaman saya terhadap agama sangat dangkal. Namun bolehkah saya mengajak pembaca sekalian untuk membuka surat ke 55 Alquran yakni Surat Ar-Rahman?

Mengapa Surat Ar Rahman? karena Ar Rahman adalah surat yang berulang kali mengingatkan manusia untuk bersyukur lewat ayat berbunyi "Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan" yang memiliki arti "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Menurut hitungan saya, ayat serupa tertulis sebanyak 33 kali dalam Surat Ar Rahman yang keseluruhannya terdiri atas 78 ayat. Subhanallah! Saya jatuh cinta pada surat ini.

Saya adalah manusia yang sangat pandai mengeluh. Pintar mengumpat. Kerap kali mencaci maki keadaan yang tak sesuai keinginan hati. Teman memakai tas dan sepatu mahal saja, saya iri setengah mati dan berhasrat memiliki benda serupa. Namun pada akhirnya saya sadar. Sepatu, entah mahal ataupun tidak, fungsinya tetap sama. Sebagai alas dan pelindung kaki. begitu pun dengan tas. Tas, seharga lima juta ataupun yang seharga lima puluh ribu, fungsinya tetap sama, yakni membantu membawakan benda-benda yang kita perlukan saat bepergian. Begitu juga dengan kendaraan, murah atau mahalnya, fungsinya adalah membawa kita ke tujuan dengan waktu yang lebih singkat. Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dulu, ketika satu persatu teman seusia saya menikah, saya seolah terburu waktu untuk segera menyusul mereka. Bahkan saat jodoh belum juga bertamu, saya mengumpat diri dengan berkata "Oh mungkin aku kurang cantik" di depan cermin. Padahal Allah belum juga mempertemukan saya dengan jodoh saya semata agar saya bisa memantaskan diri dengan jodoh yang saya inginkan baik-baik pula. Bukankah jodoh termasuk pada takdir ikhtiar yang hasilnya akan sesuai upaya manusia itu sendiri? Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Bukankah waktu yang dipanjangkan Allah untuk memperbaiki diri adalah sebuah nikmat? 

Ketika saya sudah berusaha melamar pekerjaan ke sana-sini, namun belum menemukan pekerjaan yang saya inginkan, saya marah karena lelah. Namun setelah saya renungkan, pekerjaan yang saya inginkan mengharuskan saya pergi ke luar kota dan meninggalkan ibu saya. Ibu saya masih sangat membutuhkan saya. Jika saya sibuk bekerja di luar kota, maka mustahil rasanya saya bisa membuatkan ramuan tradisonal pengobat diabetesnya. Saya disadarkan oleh dua hal. Bersyukur memiliki seorang ibu yang tidak pernah menuntut dan mendikte saya untuk menjadi sesuatu yang ia mau. Sementara diluaran berapa banyak anak stress karena mendapat tekanan ulah belum juga bekerja? Juga bersyukur masih memiliki waktu berbakti pada Ibu selagi ia di dunia. Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 

Bersyukur sangat erat hubungannya dengan lapang dada, ikhlas dan khuznuzon terhadap Allah. Tetaplah bersyukur dalam keadaan sesempit dan sesulit apapun. Ketika uang yang kita pinjamkan tak kunjung dikembalikan, bersyukurlah karena kita masih bisa melapangkan hidup orang lain untuk waktu yang lebih lama. Ketika kita tidak memiliki teman-teman kaya, bukankah teman-teman yang miskin yang mengingatkan kita untuk tetap bersyukur dan mematut diri? Ketika kita dihina orang lain dan  tidak membalasnya bukankah pahala ganjarannya? Nikmat Allah begitu indah untuk kita dustakan. Hidup terlalu bermakna untuksuudzon terhadap sang Pencipta. Tidak ada yang sia-sia. Sepahit apapun itu. Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 



"Fabiayyiaa laa ii rabbikuma tukadzibaan"
" Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Maha benar Allah dengan segala firman-NYA.






Senin, 22 Februari 2016

SEPUCUK SURAT UNTUK IMAMKU KELAK

               Image by abatasa.co.id

Pariaman, 18 Februari 2016


Teruntuk Adam Pendamping Hidupku Kelak..

Assalamualaikum, Adam..
Sedang apa wahai calon imamku? Sudahkah shalat fardhu isha lalu dilanjutkan dengan membaca surat Al Kahfi? Ini malam jumat, malam yang baik untuk mengamalkan surat al kahfi, hingga esok hari terbenamnya matahari esok. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma aku membaca; “Barang siapa membaca surat Al Kahfi, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya diantara dua Jumat”

Sungguh aku akan sangat beruntung mendapatkan calon imam yang rajin melakukan amalan ini dan tak bosan mengajakku turut mengamalkan amalan spesial ini. Subhanallah!

Betapa aku merindukan belahan jiwa yang sholeh. Belahan jiwa yang mampu menuntunku ke jalan menuju surgaNYA dengan sinar terang keimanannya. Kamukah itu wahai calon imamku yang belum ku tahu siapa namamu?

Adakah kau tahu, Adam? Disetiap pagi, siang dan malamku, aku merayu Allah-ku dengan puja puji terindah. Ku pilihkan kata-kata terbaik agar DIA sudi mengijabah doaku. Doa untuk segera dipertemukan dengan pria sholeh sepertimu.

Mungkin kau bertanya-tanya, siapa aku? Aku adalah hamba Allah paling lancang. Khilaf sering ku perbuat namun belakangan ini berani merayu-NYA untuk meminta dipertemukan segera denganmu. Adamku, aku adalah wanita paling hina, jauh sebelum surat ini ku tulis, aku tak ubahnya seperti wanita kafir. Aku berjilbab, namun jarang shalat! Lalu tanpa malu, aku berani meminta ini itu. Tak jarang pula aku mengumpat-NYA ketika harapanku tak sesuai harapan.

Adamku, jauh sebelum aku menulis surat ini, aku tak ubahnya seperti wanita tak beriman. Aku menghabiskan waktu untuk memikirkan laki-laki yang bukan mahramku. Sungguh, telah berzina fikiran kala itu. Bahkan, aku telah berzina hati dengan menangisi laki laki yang tak patut ku tangisi. Api neraka-lah yang akan menjilat air mataku kala itu. bukankah satu-satunya air mata yang tak terjilat api neraka adalah air mata yang jatuh ketika membaca Al-Quran?

Adamku, jauh sebelum aku menulis surat ini, aku adalah wujud wanita sombong yang lebih suka membaca pesan-pesan singkat yang berisi rayuan manusia dibanding membaca ayat-ayat suci Alquran.
Betapa hinanya aku!
Aku menangis..
Untuk melanjutkan menulis surat ini pun jemariku gemetar.

Rasanya tak pantas melakukan hal ini. Namun sejurus kemudian aku sadar, Allah maha besar. Allah maha pemaaf. Adamku, aku terus berusaha memperbaiki diri. Meski aku tak langsung suci dan perilakuku tak serta merta seanggun bidadari. Aku masih memiliki banyak kekurangan dan sewaktu-waktu bisa berlaku khilaf seperti yang sudah-sudah. Untuk itu Adam, lengkapi kurangku. Tegur salahku. Dan bimbing aku tetap lurus berjalan di jalan-NYA.

Adamku, aku kini sudah dewasa. Seperti wanita kebanyakan, aku ingin segera menikah. Aku ingin menuai pahala dari ladang bernama rumah tangga. Aku ingin memasakan masakan terenak untukmu. Aku ingin menukar pahala dengan segelas air putih yang ku suguhkan untukmu sepulang bekerja.

Adamku, dunia semakin panas saja. Banyak perilaku manusia diluar ajaran agama. Aku ingin bernaung di satu mahligai yang sejuk, yang mana engkau sebagai imam pemberi oase bagiku dan anak-anak kita. Sungguh tiada tempat kembali selain agama. Sungguh tiada pegangan yang tangguh ditengah gilanya dunia, selain imam yang beriman. Meski aku tahu begitu susah mencarimu diantara bermilyar-milyar manusia. Begitu sukar mencarimu, pria sholeh.

Entah kapan kita dipertemukan, Adam. Satu bulan lagi, satu, dua, atau tiga tahun lagi? Aku akan bersabar, demi laki-laki terbaik sepertimu. Kau tak perlu tanpan, cukup beriman. Kau tak perlu kaya raya, cukup hanya setia. Sekalipun engkau seorang yatim piatu, tak masalah. Aku ikhlas tidak bermertua.

Ku akhiri surat ini, Adam. Ku balut rinduku padamu dengan tasbih dan doa. Jaga imanmu, pelihara hatimu, aku yang terus berusaha memperbaiki diri menantimu disini.
Wassalam..

Netri Olala…..