Kamis, 23 Oktober 2014

Pesta Perayaan Kekecewaan

Image by Google

“Malam ini aku merayakan sebuah kekecewaan. Aku mengundang kau sebagai tamunya. Hanya kau. Mari kita rayakan luka ini berdua. Karena memang, kau pelakunya. Perayaan ini tentu akan lebih meriah dengan iringan tangis piluku. Lalu kita mulai berdansa. Lalu, kita akan bersulang dan mulai meminum air mataku dari gelas kaca yang telah menggores ulu hatiku sebelumnya. Mari kita rayakan pesta ini, sayang.
Ini adalah pesta kita. Dimana hnaya ada kau adan aku. Jika kau ingin menyuguhkan pertunjukan hebat padaku, silahkan! Kau punya kesempatan untuk memeluk erat tubuhku lalu melemparya ke jurang yang lebih dalam. Kau bisa mendekatiku seraya tersenyum lalu menamparku dengan sangat keras. Lakukanlah itu. agar perayaan ini semakin meriah. Ayo lakukanlah, sayang.”


Sabtu, 18 Oktober 2014

Untukmu yang Mencintainya



Imege By Google

Aku tidak pernah berharap, suatu saat kau sadar bahwa rangkaian kata ini tertulis untukmu. karena bukan itu tujuanku. Aku hanya berusaha menyampaikan resah. Tanpa harus menyampahi timeline twitterku, dan memalukan jika sampai terbaca olehmu. Aku menulis ini, agar gundahku musnah, tanpa perlu ku sebutkan namamu di dalamnya. Semoga kau tak mampu menebak bahwa kaulah itu…

Rasa itu lahir dari sebuah pertemuan yang tak begitu ku harapkan. Kerena aku tak cukup percaya diri untuk bertemu denganmu. Tahukah kau? Pada saat itu aku berdoa semoga hujan turun lebat sehingga membuatmu enggan menemuiku. Tapi sayang, Tuhan tak mengabulkan pintaku dan kita pun bertemu di pantai itu.
Tidakkah kau menangkap keteganganku pada saat itu? Mungkin, pelayan kafe itu pun tak tahu, bahwa teh panas yang ia suguhkan untukku terlalu manis. Namun, aku menyeruputnya sampai habis. Bukan karena aku suka manis. Tapi karena aku tak punya aktivitas lain untuk menyamarkan gugupku.
Jujur, semua yang ada padamu, mampu menyapaku sehingga aku berada pada kondisi TERPESONA. Semuanya. Caramu bicara, caramu tersenyum, caramu bersikap dan caramu mendengarkan setiap ucapan-ucapan ‘garing’ku. Adakah kau tahu itu.

Tapi, aku tak berusaha memupuk keTERPESONAan itu menjadi cinta yang nantinya akan amat menyiksa. Aku tahu, hatimu telah berpunya. Gadis itu teramat cantik. Kau tentu bangga memilikinya. Sehingga tak pantas rasanya aku mengurangi kebanggaan itu dengan menjajakan perasaanku padamu. Kita berteman. Ya, aku akan membatasi diri dengan konteks itu.

Sampaikan salamku pada dia yang kau cintai dan mencintaimu. Katakan padanya, bahwa ia beruntung memiliki lelaki sehebatmu. Berunutng mendapatkan ucapan selamat pagi dan malam darimu. Beruntung memperoleh perhatian yang menyejukkan. Dan beruntung merasakan sentuhan jemarinya yang hangat. Tolong sampaikan! Dari aku, teman barumu….

Sabtu, 21 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun, Bapak Kerempeng!


Di lidahmu tak bertahta dewa-dewi
Kau tak pandai bicara
Bukan ahli pidato
Tak paham retorika

Wajahmu tak setanpan rivalmu
Ndeso!
Kau tak gagah
Kerempeng!
Mungkin kau tak pandai berkuda

Bahasa Inggrismu terbata
I DON’T THINK ABOUT THAT
Kau lafas dengan aksen Jawa
Tak pantas kau jadi presiden (kata mereka)

Masih Kata mereka…
kau keturunan China
Islam bukan agamamu
Cukong-cukong pengeruk uang
berdiri di belakangmu
Parahnya, kau adalah presiden boneka

 Tapi, sejurus kemudian batinku bertanya
Apa arti retorika jika yang dibutuhkan kerja nyata
Apa arti ahli pidato
 Jika semua programnya NATO
Dewa-dewi bertahta di otakmu, Joko!

Untuk apa pemimpin tanpan
Jika amanat rakyat tak mampu diemban
Untuk apa pemimpin gagah
Jika kebebasan rakyat terjarah

Lalu, apa bahasa Inggris bisa
menyelesaikan krisis?
Hutang Negara menipis?
Pendapatan rakyat naik drastis?

Tentang presiden boneka..
Boneka mana yang mampu mengubah
Nyata wajah Jakarta
Boneka mana yang ulang tahunnya
 menjadi trending topic dunia?
Boneka mana
yang mampu cetuskan revolusi mental?
Mengenai wajah ndeso mu, I DON’T THINK ABOUT THAT!
Selamat ulang tahun!

Pariaman, 21 Juli 2013
Netri Olala

Jumat, 20 Juni 2014

Menjemput Sepotong Ingatan Yang Tertinggal


Pada salah satu tanggal milik bulan maret itu, kamu datang dengan gagahnya. Menyalami ibuku dan berbincang akrab di ruang tamu. Aku sesekali mencuri dengar dari apa yang kalian bicarakan dari dapur. Secangkir teh aku suguhkan untukmu dan ibu berlalu. Tinggal kita berdua. Dan kita terjebak oleh rasa canggung karena baru pertama kali ini bertemu.
Tak butuh waktu lama, aku memenuhi permintaanmu untuk menjadi kekesihmu. Sikap layaknya seorang ksatria kau tunjukan padaku ketika kamu meminta ibuku merestui hubungan kita. Hingga tak berlebihan rasanya jika aku percaya bahwa kau adalah laki-laki yang selama ini aku dambakan. Dimataku tak ada lelaki yang lebih bertanggung jawab darimu. Tak ada yang lebih setia. Tak ada rasanya pria yang menyayangiku selain kamu.

Hari terus berlalu. Hingga memasuki bulan yang kata mereka romantis, sikapmu tak lagi manis. Kasih sayang dan setiamu terkikis. Sekuat apa pun kau coba menutupi, realita itu terkuak juga. Aku benar-benar tak habis fikir. Di tengah usahaku memelihara kisah cinta kita sedemikian rupa, kau malah asyik mengikuti pesona wanita yang jauh lebih tua dari usia kita. Apa yang sebenarnya sedang kau cari? Apa kau ingin mendapatkan apa yang tak kau dapatkan dariku?
Kau berhasil membuat orang-orang terdekatku sibuk menyeka air mataku. Air mata ketidakpercayaan atas kebohongan-kebohongan yang kau lakukan. Air mata ketidakpercayaan atas hancur leburnya mimpi-mimpi kita yang kau sendiri penciptanya. Air mata ketidakpercayaan bahwa perjumpaan kita sehari setelah ulang tahunku itu adalah perjumpaan terakhir kita karna memang perpisahan disepakati sebagai jalan keluar atas kepalsuan yang kau ciptakan ini.
Mungkin aku telambat menulis cerita ini. Terlambat mengenang cerita ini. Aku terlambat menyadari bahwa luka atas dusta ini teramat perih. Aku sengaja baru menulis cerita ini sekarang, karena baru hari ini aku yakin mampu menulis kembali kisah brengsek ini tanpa air mata. Aku baru berani menulis cerita ini setelah berpuluh-puluh hari aku mencoba berlatih tersenyum kembali. Berpuluh-puluh hari aku melelahkan badanku dengan pekerjaan ini-itu, agar ketika malam aku langsung tertidur dan tak sempat mengingatmu. Berpuluh-puluh hari aku memberi perintah berpikir lebih pada otakku untuk hal-hal tak penting sebenarnya untuk ku pikirkan. Agar apa? Agar otakku tak punya ruang untuk memikirkanmu. Meski sesekali tangisku pecah kerena kalah. Melupakanmu sulit. Namun saat tulisan ini aku posting di diary digitalku, pada saat itulah aku bisa katakan, AKU BERHASIL MELUPAKANMU! Selamat tinggal!




Rabu, 26 Februari 2014

AWAS!

Awas!


Aku mengutuk malam ini yg panas
sama halnya aku mengutuk kisah cinta ini nan naas
juga mengutuk kebohongan demi kebohongan
yang kau toreh di atas cintaku yang seputih kapas
di setiap hela nafas aku berlafaz 'ikhlas'
namun seketika ikhlasku terhempas
ketika wajah wanita durja itu membias
percuma aku berusaha mengikat, sementara kau terus ingin lepas
dia bersama tubuhnya sanggup membuatmu puas
sedang denganku, kau haus memelas
sialnya malam ini sakit hatiku membuas
ingin rasanya kepala kotormu dan dia ku tebas
ketika kau bersama semua penghianatanmu tewas
saat itulah aku tertawa lepas
aku puas
haaahh
paling tidak aku menang memerangi birahi kalian yang ganas

 Olala, Rabu, 26 Feb 2014