Jumat, 30 Januari 2015

Sadari Atau Lewati (ada) Ku



Kau terlihat begitu muram. Memang bukan tanpa alasan. Dia, yang kau cinta pergi begitu saja. Bagi pria sedewasamu, mungkin kau sudah berencana menikahinya. Aku mengagumimu karena kekuatanmu mengubah apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Cinta memang mampu merapuhkan apapun, termasuk kuatmu. Sehingga aku terkejut oleh lemah yang kau tunjukkan dengan begitu serampangan.
Ayolah, jangan larut dalam pusaran penyesalan! Angkat kepalamu! Jangan lagi terpekur seperti itu. Ketahuilah, saat kau bersedih dicampakkannya, di saat bersamaan aku terus merayu Tuhan agar IA sampaikan bahwa disini ada aku yang siap menyeka air matamu. Saat kau terus mengikuti bayang dia yang semakin samar, disini ada aku yang berusaha terlihat olehmu. Jika karena satu atau dua kekuranganmu yang menjadi alasan kau ditinggalkan, ketahuilah, disini ada aku yang sangat mengagumi banyak kelebihanmu. Selamat mencoba menyadari hal itu. Jika tak bisa, abaikanlah! Mungkin menurutmu ini tak lebih dari sebuah lelucon konyol.
Pariaman, 30 Januari 2015, saat rintik hujan turun dengan ragu-ragu
@Netriolala


Selasa, 11 November 2014

Ingatlah, Mantan!


Handphoneku berbunyi petanda ada telepon masuk. Ku lihat di layar, tertera nomor ponselmu. Ya. aku masih ingat betul bahkan sangat-sangat ingat nomor ponselmmu. Aku menarik nafas seraya bertanya sendiri, ada apa hingga kamu menelponku?

            “Halo” ucapmu di ujung telpon. Aku masih terdiam. Hingga kamu mengulang sekali lagi barulah aku membalas.
            “Ya halo. Ada apa?” tanyaku sebiasa mungkin.
            “Ada Tabuik di kotamu hari minggu kemaren kok diem-diem aja? Nggak ngajak-ngajak!”
            Aku tertegun ditodong pertanyaan itu.
            “Salah sendiri kenapa nggak kesini”
            “Pengen sih tapi nggak ada yang dilihat disana”
            “Lho, kan ada Tabuik yang bisa dilihat”
            Kamu pun terdenger tertawa di ujung sana mendengar perkataanku.
            “Apa kabar sekarang?” tanyamu mengalihkan topik pembicaraan.
            “Nggak ada. Lagi santai-santai aja”
            Aku berusaha tak balik bertanya tentangmu.
            “Kapan wisuda?”
            “Masih lama?”
            “Bukannya sekarang?”
            “Ditunda”
            “Oh”
            Kita berdua sama-sama hening.
            “Gimana kabar ibu?” tanyamu setelah lama diam.
            “Baik”
            Aku bahkan tak berniat sedikitpun menanyakan kabar ibumu.

            Aku tak ingin larut dalam percakapan ini. Dan mengulang kebodohan lagi. Aku berharap kamu segera mematikan telpon. Tapi kamu malah terus berusaha membuatku bebicara panjang lebar. Persis seperti dulu. Tapi sekarang, aku tak lagi bisa bercerita tentang apa yang ku lihat, dengar dan rasakan padamu. Kamu sendiri yang merubahku menjadi tertutup padamu.
            “Aku pengen makan bakso di tempat yang biasa kita makan” katamu lagi.
            “Ya udah makan aja”
            “kamu mau nemenin nggak?”
            “Aku di Padang sekarang”
            “Ngapain?”
            “Kerja”
            Aku terpaksa berbohong agar mempunyai alasan untuk menolak permintaanmu. Aku tak menghendaki pertemuan itu. Ibuku juga tak akan lagi sudi melepasku pergi bersamamu.
            “Oh. Udah punya pacar, ya, sekarang. Anak mana?”
            “Adalahh” jawabku penuh teka-teki. Aku membiarkanmu menebak-nebak.
            Tiba-tiba ibu memanggilku. Aku tak mau suara ibu terdengar olehmu. Aku segera mematikan telfon. Tak lama kemudian kamu menelfon lagi.
            “Ya?”
            “Kenapa dimatiin?” tanyamu protes.
            “Oh tadi pacarku nelfon..mmm..udah dulu, ya, nanti dia mau nelfon lagi soalnya..” aku  berbohong.
            “Oh ya udah” kamu mengucap salam lalu mematikan telfon.

Aku benar-benar tak puya alasan lagi untuk masuk ke kehidupanmu, mantan. Di saat kamu memutuskan untuk mengakhiri “kita” aku berjuang keras untuk menahan inginku untuk menelfonmu. Ku nikmati tiap tetes air mata rindu. Ketika air itu sampai pada hati yang luka, rasanya amat pilu. Tapi sekarang, kamu mungkin punya banyak alasan untuk menghubungiku lagi. Mungkin kamu bosan dengan wanita yang telah merebutmu dari ku itu, hubungan kalian berakhir, atau kamu hanya coba mempermainkanku sekali lagi. Aku sempat berubah wujud menjadi wanita yang tolol ketika memaafkan dan memaafkan setiap kebrengsekan demi kebrengsekan yang kamu buat. Aku berulang kali memberi kesempatan, namun sia-sia tak berguna.
Sekarang aku tak ingin menjadi Netri yang bodoh lagi. ketika kamu memilih menyakitiku dengan sangat sadis, disaat itulah sebuah keyakinan menguatkanku bahwa;aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu.
Ingatlah ketika kamu dengan perempuan barumu mencaci maki aku. Ingatlah ketika kalian tertawa di atas pedihku. Ingatlah ketika aku memohon hatimu lagi untukku waktu itu, tapi kamu malah menamparku dengan sangat keras lewat sebuah kenyataan bahwa kamu mantap memulai kisah baru dengan perempuan serampangan itu. Bukan ingin mengajarimu menjadi pendendam. Tapi aku hanya ingin kamu belajar bahwa tak selamanya wanita itu bodoh oleh cinta. Hingga kamu tak lagi melakukannya pada wanita lainnya.

                                        Pariaman, 11 Novermber 2014 ketika, rintik hujan berjatuhan dengan manjanya..

@Netriolala


Image By Google


Kamis, 23 Oktober 2014

Pesta Perayaan Kekecewaan

Image by Google

“Malam ini aku merayakan sebuah kekecewaan. Aku mengundang kau sebagai tamunya. Hanya kau. Mari kita rayakan luka ini berdua. Karena memang, kau pelakunya. Perayaan ini tentu akan lebih meriah dengan iringan tangis piluku. Lalu kita mulai berdansa. Lalu, kita akan bersulang dan mulai meminum air mataku dari gelas kaca yang telah menggores ulu hatiku sebelumnya. Mari kita rayakan pesta ini, sayang.
Ini adalah pesta kita. Dimana hnaya ada kau adan aku. Jika kau ingin menyuguhkan pertunjukan hebat padaku, silahkan! Kau punya kesempatan untuk memeluk erat tubuhku lalu melemparya ke jurang yang lebih dalam. Kau bisa mendekatiku seraya tersenyum lalu menamparku dengan sangat keras. Lakukanlah itu. agar perayaan ini semakin meriah. Ayo lakukanlah, sayang.”


Sabtu, 18 Oktober 2014

Untukmu yang Mencintainya



Imege By Google

Aku tidak pernah berharap, suatu saat kau sadar bahwa rangkaian kata ini tertulis untukmu. karena bukan itu tujuanku. Aku hanya berusaha menyampaikan resah. Tanpa harus menyampahi timeline twitterku, dan memalukan jika sampai terbaca olehmu. Aku menulis ini, agar gundahku musnah, tanpa perlu ku sebutkan namamu di dalamnya. Semoga kau tak mampu menebak bahwa kaulah itu…

Rasa itu lahir dari sebuah pertemuan yang tak begitu ku harapkan. Kerena aku tak cukup percaya diri untuk bertemu denganmu. Tahukah kau? Pada saat itu aku berdoa semoga hujan turun lebat sehingga membuatmu enggan menemuiku. Tapi sayang, Tuhan tak mengabulkan pintaku dan kita pun bertemu di pantai itu.
Tidakkah kau menangkap keteganganku pada saat itu? Mungkin, pelayan kafe itu pun tak tahu, bahwa teh panas yang ia suguhkan untukku terlalu manis. Namun, aku menyeruputnya sampai habis. Bukan karena aku suka manis. Tapi karena aku tak punya aktivitas lain untuk menyamarkan gugupku.
Jujur, semua yang ada padamu, mampu menyapaku sehingga aku berada pada kondisi TERPESONA. Semuanya. Caramu bicara, caramu tersenyum, caramu bersikap dan caramu mendengarkan setiap ucapan-ucapan ‘garing’ku. Adakah kau tahu itu.

Tapi, aku tak berusaha memupuk keTERPESONAan itu menjadi cinta yang nantinya akan amat menyiksa. Aku tahu, hatimu telah berpunya. Gadis itu teramat cantik. Kau tentu bangga memilikinya. Sehingga tak pantas rasanya aku mengurangi kebanggaan itu dengan menjajakan perasaanku padamu. Kita berteman. Ya, aku akan membatasi diri dengan konteks itu.

Sampaikan salamku pada dia yang kau cintai dan mencintaimu. Katakan padanya, bahwa ia beruntung memiliki lelaki sehebatmu. Berunutng mendapatkan ucapan selamat pagi dan malam darimu. Beruntung memperoleh perhatian yang menyejukkan. Dan beruntung merasakan sentuhan jemarinya yang hangat. Tolong sampaikan! Dari aku, teman barumu….

Sabtu, 21 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun, Bapak Kerempeng!


Di lidahmu tak bertahta dewa-dewi
Kau tak pandai bicara
Bukan ahli pidato
Tak paham retorika

Wajahmu tak setanpan rivalmu
Ndeso!
Kau tak gagah
Kerempeng!
Mungkin kau tak pandai berkuda

Bahasa Inggrismu terbata
I DON’T THINK ABOUT THAT
Kau lafas dengan aksen Jawa
Tak pantas kau jadi presiden (kata mereka)

Masih Kata mereka…
kau keturunan China
Islam bukan agamamu
Cukong-cukong pengeruk uang
berdiri di belakangmu
Parahnya, kau adalah presiden boneka

 Tapi, sejurus kemudian batinku bertanya
Apa arti retorika jika yang dibutuhkan kerja nyata
Apa arti ahli pidato
 Jika semua programnya NATO
Dewa-dewi bertahta di otakmu, Joko!

Untuk apa pemimpin tanpan
Jika amanat rakyat tak mampu diemban
Untuk apa pemimpin gagah
Jika kebebasan rakyat terjarah

Lalu, apa bahasa Inggris bisa
menyelesaikan krisis?
Hutang Negara menipis?
Pendapatan rakyat naik drastis?

Tentang presiden boneka..
Boneka mana yang mampu mengubah
Nyata wajah Jakarta
Boneka mana yang ulang tahunnya
 menjadi trending topic dunia?
Boneka mana
yang mampu cetuskan revolusi mental?
Mengenai wajah ndeso mu, I DON’T THINK ABOUT THAT!
Selamat ulang tahun!

Pariaman, 21 Juli 2013
Netri Olala

Jumat, 20 Juni 2014

Menjemput Sepotong Ingatan Yang Tertinggal


Pada salah satu tanggal milik bulan maret itu, kamu datang dengan gagahnya. Menyalami ibuku dan berbincang akrab di ruang tamu. Aku sesekali mencuri dengar dari apa yang kalian bicarakan dari dapur. Secangkir teh aku suguhkan untukmu dan ibu berlalu. Tinggal kita berdua. Dan kita terjebak oleh rasa canggung karena baru pertama kali ini bertemu.
Tak butuh waktu lama, aku memenuhi permintaanmu untuk menjadi kekesihmu. Sikap layaknya seorang ksatria kau tunjukan padaku ketika kamu meminta ibuku merestui hubungan kita. Hingga tak berlebihan rasanya jika aku percaya bahwa kau adalah laki-laki yang selama ini aku dambakan. Dimataku tak ada lelaki yang lebih bertanggung jawab darimu. Tak ada yang lebih setia. Tak ada rasanya pria yang menyayangiku selain kamu.

Hari terus berlalu. Hingga memasuki bulan yang kata mereka romantis, sikapmu tak lagi manis. Kasih sayang dan setiamu terkikis. Sekuat apa pun kau coba menutupi, realita itu terkuak juga. Aku benar-benar tak habis fikir. Di tengah usahaku memelihara kisah cinta kita sedemikian rupa, kau malah asyik mengikuti pesona wanita yang jauh lebih tua dari usia kita. Apa yang sebenarnya sedang kau cari? Apa kau ingin mendapatkan apa yang tak kau dapatkan dariku?
Kau berhasil membuat orang-orang terdekatku sibuk menyeka air mataku. Air mata ketidakpercayaan atas kebohongan-kebohongan yang kau lakukan. Air mata ketidakpercayaan atas hancur leburnya mimpi-mimpi kita yang kau sendiri penciptanya. Air mata ketidakpercayaan bahwa perjumpaan kita sehari setelah ulang tahunku itu adalah perjumpaan terakhir kita karna memang perpisahan disepakati sebagai jalan keluar atas kepalsuan yang kau ciptakan ini.
Mungkin aku telambat menulis cerita ini. Terlambat mengenang cerita ini. Aku terlambat menyadari bahwa luka atas dusta ini teramat perih. Aku sengaja baru menulis cerita ini sekarang, karena baru hari ini aku yakin mampu menulis kembali kisah brengsek ini tanpa air mata. Aku baru berani menulis cerita ini setelah berpuluh-puluh hari aku mencoba berlatih tersenyum kembali. Berpuluh-puluh hari aku melelahkan badanku dengan pekerjaan ini-itu, agar ketika malam aku langsung tertidur dan tak sempat mengingatmu. Berpuluh-puluh hari aku memberi perintah berpikir lebih pada otakku untuk hal-hal tak penting sebenarnya untuk ku pikirkan. Agar apa? Agar otakku tak punya ruang untuk memikirkanmu. Meski sesekali tangisku pecah kerena kalah. Melupakanmu sulit. Namun saat tulisan ini aku posting di diary digitalku, pada saat itulah aku bisa katakan, AKU BERHASIL MELUPAKANMU! Selamat tinggal!