Minggu, 31 Januari 2016

Pesan Cinta Untuk Pemuda Kota Pariaman


“BERI AKU SEPULUH PEMUDA, MAKA AKAN AKU JADIKAN PREMAN DI KAWASAN WISATA!”

            Saya tidak sedang membecandai Soekarno dengan membuat plesetan atas seruannya yang amat terkenal tentang pemuda:

“BERI AKU SEPULUH PEMUDA MAKA AKAN AKU GUNCANG DUNIA!”

Saya tidak sedang melucu, karena permasalahan ini bukan lelucon. Ini masalah serius. Ini masalah mental. Tulisan ini berangkat dari patah hati saya karena pemuda dalam seruan Bung Karno yang tak lagi terepresentasi oleh pemuda kini. Saya tidak berani berbicara tentang pemuda Indonesia. Saya hanya ingin berbicara tentang pemuda di kota saya. Dimana sebagian dari mereka kini lebih memilih menjadi “tukang parkir” dan “petugas kebersihan” dadakan!
Lewat tulisan ini, saya ingin berkirim pesan cinta…

"Teman-temanku, pemerintah kota tengah berbenah di sektor wisata. Di sepanjang pantai Nareh hingga pantai Kata, sedang dipercantik agar indah dipandang mata. Tujuannya tak lain adalah wisatawan domestik hingga mancanegara datang ke kota kita. Pendapatan daerah bertambah, dan perekonomian masyarakat sekitar ikut menggeliat. Ada pedagang nasi sala, nasi sek, sala lauak, es kelapa muda dan pedagang-pedagang kecil lainnya yang menanti pengunjung pantai datang membeli dagangannya. Lalu, apa dengan uang palak bartameng uang parkir atau uang kebersihan yang kalian minta, kalian tega memupuskan harapan mereka? 

Kontribusi kita terhadap pariwisata kota tercinta ini bukan itu. Peran kita sebagai masyarakat lokal adalah menjaga kenyamanan pengunjung dengan ramah tamah agar dikemudian hari mereka kembali lagi, bukan meminta uang kebersihan dimana mereka duduk santai menikmati makanan yang mereka bawa. Bukan meminta uang parkir di setiap titik mereka berhenti untuk mengambil foto.

Jika di kampung kita dibangun spot wisata baru, dukung siapa saja yang punya inisiatif selagi positif. Bukan memusuhi dengan mengambil alih apa yang sudah dibangun yang kita belum tentu bisa handle semuanya. Bukan “Iko kampuang den, aden nan bagak. Waang sia?”

            Jika begini terus, kapan Pariaman akan maju? Kemajuan sebuah kota bukan tercermin dari pembangunan fisik saja, namun juga mental masyarakatnya.

            Kenapa kita tidak bisa kreatif seperti pemuda Bandung, Yogyakarta, ataupun Bali. Mereka membuat souvenir khas daerah mereka. Mereka beradu kreativitas dengan menciptakan clothing line sendiri yang tidak dibanderol harga tinggi, hingga semua wisatawan dapat membawa pulang buah kreativitas mereka. Mereka tidak sekedar duduk-duduk di kawan wisata lalu menjadi tukang parkir liar atau petugas kebersihan dadakan untuk mengeruk uang pengunjung saja. Be open minded people, please! Jika wisatawan menjadi enggan mengunjungi (lagi) kota ini, maka jadilah Pariaman kota mati.

            Teman-teman, kalian yang melaut, teruslah melaut. Cari ikan yang banyak lagi segar. Jual pada pemilik rumah makan. Kalian yang dulunya tukang ojek motor yang sepi penumpang, jadilah tukang bendi agar wisatawan bisa menyusuri pantai lewat jasa kalian, dan mintalah tarif normal saja. Kalian yang masih sekolah atau kuliah teruslah sekolah dan kuliah, Pariaman butuh pemikiran kalian ke depan. Kalian yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan, belajarlah membuat miniatur kapal Dewaruci pada Angah Black. Jika Bali punya patung Legong keraton, Pariaman punya kapal Dewaruci. Bukan bermaksud menggurui, hanya memberi usul tanda peduli. Salam cinta, salam damai, dan salam perubahan."
                       
                                                                                                                                                                                                                                                                             Netri Olala, 24 Januari 2016


Sedikit Catatan: Silahkan copas tulisan ini dengan masih mencantumkan sumber aslinya!

Minggu, 24 Januari 2016

Perkenalkan Pulau Bando, Karena Pariaman Tak Melulu Soal Pulau Angso Duo

Jika kamu seorang taveller, terlebih pengagum pesona laut, maka lengkapi album travelling kamu dengan mengunjungi salah satu pulau yang berada di Pariaman, yakni pulau Bando. Pulau Bando adalah pulau yang masuk pada perairan kota Pariaman namun dinyatakan milik Provinsi Sumatra Barat karena tidak dikelola oleh pemerintah Kota. Pulau Bando memiliki luas kurang lebih 7,2 hektre dan masih terbilang asli karena ditumbuhi pohon kelapa dan beberapa tumbuhan lainnya.

Namun, ketika rombongan kami yang dikepalai oleh Bpk. Indra Jaya Piliang berkunjung ke pulau yang satu jam lebih perjalanan dari Tiram Ulakan, Padang Pariaman ini, kemarin (23/01/16), terlihat pulau ini tengah dipercantik dengan diciptakannya Landmark ‘Pulau Bando’ yang belum finish pengerjaannya, juga dikebutnya pembangunan sebuah homestay bergaya etnik dengan kayu pernis yang cantik. Terlebih dahulu, sebuah Gazebo sudah berdiri kokoh yang pada akhirnya menjadi tempat istiahat dan makan siang kami.

Perjalanan menuju pulau ini sangat ekstrim. Kapal yang kami tumpangi kerap kali mengeluarkan suara yang cukup keras ketika memecah ombak. Belum lagi angin cukup kencang menyerang, membuat kapal kami oleng ke kiri dan kanan. Saya hanya bisa berdoa memohon keselamatan dari dalam kapal, sementara bapak Indra Jaya Piliang, Bang Joze Rizal, Bang Budy Sukmadianto, Uncu Muhardi Koto dan Ramadanus Weri dengan gagahnya berdiri melawan ombak di depan kapal. Benar-benar awak kapal yang tangguh lagi baik :D.


(Berangkat dari Tiram, Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman)    
      
Setelah satu jam setengah dihempas gelombang laut, maka sampailah kami di Pulau Bando. Saya senang dan mengucap syukur masih diberi keselamatan. Paling tidak para artis orgen tidak menggelar syukuran atas ketidakselamatan saya #eh #salahfokus #maaf.

Berikut tangkapan kamera momen-momen bahagia kami di Pulau Bando.


                  
(Wajah Sumringah setelah lepas dari hempasan gelombang selama satu setengah jam)

                                                
(Berfoto di depan Landmark Pulau Bando)

Landmark-nya full colour sekali, lain dari yang lain. Anti Mainstream..



                                       
(Makan siang di Gezebo yang baru selesai dibangun)

Oh iya, mengenai kebutuhan konsumsi seperti makan dan minum kami bawa sendiri, ya, karena tidak ada pedagang yang berjualan disini. Sebelum keberangkatan dari Tiram, Ulakan, kami pesan nasi bungkus terlebih dahulu. Tapi jika kamu berangkat dengan ambil paket, makan siang akan difasilitasi penyelenggara wisata.


                             
(Kalau udah makan siang baru boleh manjat-manjat landmark gini)


     (Main pasir juga boleh :D)


                                         
(Pak Indra Jaya Piliang Memancing di laut biru Pulau Bando)


(Wawancara Pak Indra Jaya Piliang dengan seorang wartawan perihal potensi Pulau Bando)  



                                     
(Winda dengan karang-karang kecil yang indah)

Jika kamu berkunjung ke pulau ini, mohon tetap jaga keseimbangan alam, ya! Karang-karang kecil yang menjadi ornamen sepanjang pantai pulau ini jangan di ambil lalu di bawa pulang. Karena di pulau angso sudah sedikit sekali onamen-ornamen ini, padahal dulu banyak.

Keaslian dan keindahan warna laut seperti ini juga patut dijaga. Jangan buang sampah sembarangan!

(Bang Budy Sukmadianto Diving di bawah Laut Pulau Bando)

Mohon maaf jika kualitas foto kami kurang bagus, atau bidikan kamera kami kurang profesional. Tapi percayalah, kebahagiaan kami sangat maksimal.  Saya bukan travel blogger profesional, hanya sedang mencoba mengabadikan sebuah perjalanan sederhana lewat tulisan ini. Maka, ayo angkat tas kamu, kunjungi pulau Bando dan bidik dengan kamera profesionalmu agar dunia tahu pulau Bando juga memiliki potensi wisata tak kalah oleh pulau lainnya.

Sekedar informasi, pulau Bando sudah dibuka untuk umum dan jumlah pengunjung dibatasi 50 orang perhari demi menjaga keseimbangan alam di Pulau tersebut. Dan jika kamu tertarik mengunjungi pulau Bando silahkan hubungi Budy Sukmadianto di nomor ponsel 085263877113, BBM PIN 5760FDC3 for more info.


               


Selasa, 05 Januari 2016

Tertibkan Orgen Tunggal, Selamatkan Moral Kemenakan!




Sebuah Surat Terbuka Untuk Walikota Pariaman

            Aku hanya seorang gadis kecil yang coba menulis sesuatu padamu yang pantasnya ku panggil Mamak, bukan, Pak. Surat ini bukan suatu bentuk pembangkangan, kagadang-gadangan atau sok mengajari pandeka basilek. Sepuluh jari kemenakan susun beserta kepala, memohon maaf apabila ada kata-kata kemanakan yang patut dibimbing ini yang tidak enak Mamak baca.
            Mamak, disini aku ingin berbicara tentang orgen tunggal di Pariaman. Kemenakan kecilmu ini kini telah beranjak dewasa, hingga ketika aku menyaksikan orgen tunggal yang menampilkan biduannya berpakaian minim, seolah-olah aku yang sedang ditelanjangi, ditonton dan dijadikan objek tertawa licik para lelaki yang puas menatapnya. Aku malu!
            Hingga sebelum acara itu usai aku sudah lebih dulu pergi karena terbayang apa yang akan aku saksikan selanjutnya. Ya, seperti yang sudah-sudah, seperti yang sama-sama diketahui, seperti yang sudah mulai dimaklumi, para biduan wanita itu akan melecuti beberapa bagian pakaiannya lebih minim lagi, lebih terbuka lagi, lebih memancing hawa nafsu lagi, lalu mereka bersama pemuda-pemuda bahkan mamak-mamak yang tengah mabuk akan berpesta pora. Bergoyang seolah lupa siapa mereka. Apa kedudukan mereka. Seorang mamak akan lupa memberi contoh yang baik pada kemenakannya. Pemuda yang masih sekolah lupa akan apa tanggungjawabnya esok pagi. Dan itu berlangsung hingga pukul empat pagi. Hampir mendekati subuh. Dan hal tersebut digelar diruang terbuka.
            Maka akan sangat miris lagi ketika pagi-pagi beberapa bocah usia sekolah dasar menceritakan perihal apa yang dilihatnya dari gelaran orgen tunggal semalam yang ditontonnya itu pada teman sebayanya. Menceritakan bagaimana terbukanya pakaian biduan-biduan wanitanya. Menyebutkan nama-nama orang kampungnya yang mabuk berat malam itu, dan menceritakan siapa-siapa saja yang memeluk biduan wanita seraya memberi beberapa lembar uang saweran. Miris! Bocah sekecil itu menurutku hanya boleh bercerita tentang bagaimana ia menyelesaikan PR Matematikanya semalam. Bukan bercerita tentang tontonan tak pantas yang disuguhkan kakaknya, ayahnya, mamak-mamaknya dan tetangga-tetangganya.
            Lebih miris lagi ku saksikan di kota ini, nasionalisme pemudanya hanya sebatas gelaran orgen tunggal. Mereka menanti datangnya hari peringatan kemerdekaan demi berpesta dengan orgen tunggal  dengan goyangan eotis lengkap dengan minuman keras, lalu acara itu dikemas dengan tajuk ALEK PEMUDA. Apa dengan  begitu mereka akan tahu bagaimana perjuangan para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan mungkin lagu wajib Indonesia raya saja mereka tak tahu. Mereka lebih hafal judul lagu dangdut koplo yang membuat goyangan mereka semakin asyik dan malam mereka semakin panas. Toh kemerdekaan bagi mereka adalah sebatas bebas bermabuk-mabukan dan bebas menikmati aurat yang dipertontonkan.
            Aku bukan ahli agama, Mamak. Tapi yang aku tahu mengumbar aurat itu berdosa. Meliuk-liukan badan dengan pakaian super pendek itu berdosa. Melelang harga diri dengan beberapa lembar rupiah yang diserukan dengan pengeras suara itu amat berdosa. Minuman keras itu berdosa. Bukankah oranng Minang terkenal dengan adat istiadat dan agamanya? Lalu kenapa Pariaman kini seolah menjadi Pantura jilid dua?
            Aku teringat himbauan “Maghrib mengaji” yang Mamak serukan dulu. Lalu kenapa tak bisa mamak buat himbauan “Pariaman bebas orgen tunggal”? Jikapun rumah orang baralek dan alek pemuda harus dihibur orgen tunngal, kenapa tak tegas tegakkan aturan orgen tunggal hanya boleh hingga pukul dua belas malam saja dengan menjunjung tinggi adat kesopanan dan nilai agama?
            Aku yang bodoh ini menangkap adanya pergeseran nilai di ranah yang begitu ku sanjung ini, Mamak. Jika dulu kemenakan segan bertemu mamak di lapau, kini kemanakan dan mamak duduk bersama bermain domino. Bahkan menonton orgen dilokasi yang sama dengan kelakuan yang sama. Begitu sedih aku mendapati hal tersebut. Seolah-olah Minang kabau kini tak lagi bisa dijadikan panutan. Seolah-olah nilai-nilai kesopanan dipertaruhkan demi tameng “hiburan”.
            Lakukanlah sesuatu, Mamak! Anggaplah biduan wanita itu, pemuda-pemuda itu dan anak-anak kecil yang gemar menonton orgen tunggal itu adalah kemenakan-kemanakanmu juga yang pantas Mamak ajari hal-hal baik dan Mamak lindungi dari segala yang tercela. Tak ku minta biduan-biduan seksi itu lantas berbaju kurung, Mamak, setidaknya buat mereka lebih menghargai badan mereka sendiri. Jjika tidak bisa mamak buat pemuda-pemuda itu kembali ke Surau, setidaknya buat mereka kembali ke rumah orang tuanya lebih awal. Aku menulis surat terbuka ini bukan berangkat dari resahku sendiri. Namun dari resahnya Bundo Kanduang oleh dunia yang tak lagi “talok diaja”. Aku sadar benar, Mamak bukanlah orang yang patut dipersalahkan. Ada orang tua, niniak mamak, dan urang tuo di kampung-kampung yang harusnya lebih paham menjaga anak kemenakannya. Tapi bolehkah aku memohon, Mamak? Datanglah ke lapau-lapau tiap kampung itu, temuai tiap niniak mamaknya, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Ingatkan mereka jikalau lupa. Berbincang-bincanglah di lapau dengan mereka, sebagaimana biasa Mamak lakukan di masa-masa kampanye dulu. 
            Aku mohon diri mengakhiri surat ini, Mamak. Aku masih harus memeriksa hasil ulangan anak didikku yang mengerjakan ulangan dengan mata terkantuk-kantuk ulah orgen tunggal ‘bahoyak’ dikampung mereka semalam….
                                                                                                            Netri Olala…

Rabu, 09 Desember 2015

Partikel-Partikel Luka



Apa yang tersisa dari sebuah kepergian yang tiba-tiba? Apa yang bisa dikenang dari sebuah pengabaian yang tak disertai alasan? LUKA. Selalu luka.
Dan kini aku sedang berusaha membinasakan partikel-partikel luka itu agar tak menjadi dendam pada dia yang pergi meninggalkan tanpa alasan..
Aku sudah berusaha mencari jawab. Bahkan aku bertanya-tanya pada mereka yang tak sepatutnya memberi jawab. Sementara ia yang punya alasan, hanya diam dan memaksaku memahami keadaan yang ia sendiri menciptakan.
Pedih…
Aku merasa salah  satu bagian tubuhku dicuri ketika aku sedang lelap tidur..
Aku tak henti menangis. Sementara ia tak henti diam. Menutup rapat mulutnya. Membawa apa yang menjadi alasan ia pergi sejauh mungkin dariku.
“Aku salah apa?” tanya hatiku lirih berkali-kali. Berulang kali aku menghadapkan diri ke depan cermin. Agar aku bisa tahu apa kurangku. Namun sehebat-hebatnya aku menerka, aku tetap butuh jawaban pasti apa yang telah membuat HATINYA MATI.
(Ah, aku menulis catatan cengeng lagi!) 



Pariaman, Hari ke Sembilan Milik Desember, 2015, ketika hujan yang tak mampu membasuh luka turun.


Minggu, 05 Juli 2015

Catatan Kalut Tak Berjudul


Aku seperti berada pada sebuah ruang kosong. Aku hanya bisa melakukan dua hal. Bernafas dan berpikir; “akan kemana aku setelah ini..?”
Aku seperti terasing…
Tiada teman…
Bahkan hanya untuk sekedar bertukar fikiran.
Semenyedihkan inikah hidupku sekarang?
Atau aku yang baru menyadari, bahwa dititik inilah, kehidupan baru dimulai?
Sebulan yang lalu aku baru saja diwisuda. Gelar sarjana ku peroleh. Tugas-tugas, skripsi dan segala hal berbau kuliah berakhir pada tanggal 30 Mei 2015 itu. Lalu apa yang dapat ku lakukan sekarang? TIDAK ADA! Aku hanya sibuk membuka satu persatu media sosialku. Seperti Twitter, facebook, instagram, dan BBMku. Tanpa tau aku harus kontak dengan siapa. Tanpa tahu aku ingin berkomunikasi dengan siapa. Hanya mengecek pembaruan-pembaruan mereka yang ku sebut teman, dan membiarkan handphoneku mati berjam-jam setlahnya. Sebegitu tidak petingnya hidupku!
Ku tatap ibu. Dia tak segemuk seperti beberapa tahun lalu. Diabetes menggerogoti badannya. Dalam hati lirih ku berkata “Apa yang sudah ku lakukan untuknya?”. Tak mudah seorang single parents mengantar anaknya ke gerbang pendidikan tertinggi. Ku tahu, ibuku tertatih melakukan itu. Aku merasa berdosa karena belum bisa mempersembahkan apa-apa. Baktiku baru seujung kuku. Baru sebatas mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang ku perolah untuk membelikan sekotak gula khusus untuk diabetes. Baru sebatas merebuskan daun sirsak yang ku minta di rumah tetangga untuk menurunkan gula darahnya. Lalu setiap bulannya mengantar beliau ke puskesmas terdekat untuk mengecek gula darahnya.
Sempat, terpikirkan untuk menikah. Aku takut kelak aku menikah, ibu tak lagi ada bersamaku. Namun segera ku buang pikiran picik itu. Aku belum sepenuhnya menomorsatukannya, bagaimana nanti jika aku menikah, tentu prioritasku lebih pada suami dan anak-anakku. Aku belum sepenuhnya bisa membahagiakannya. Aku belum bisa membelikan apa-apa, selain mentraktir beliau makan dari uang yang ku perolah dari menang lomba menulis. Hanya itu. Baru sebatas itu.
Aku benar-benar berada pada titik paling sedih hingga lupa bagaimana caranya meneteskan air mata. Aku berada pada titik terhampa, tanpa tahu cara meredamnya.
Ini bukan catatan seorang pengangguran baru. Tapi ini masalah, tega atau tidaknya meninggalkan ibuku untuk erangkat ke kota mengejar cita-cita. Aku begitu takut jauh dari beliau. Tapi aku juga tak ingin berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Haaahh…kalutku sudah mencapai puncaknya!!!

 Pariaman, 5/7/2015

Kamis, 02 Juli 2015

Aku, Si Ratu Ego




‘Ego!” Bukan sekali dua kali kau menudingku dengan kata itu ketika kita bertengkar.
Aku terkaum! Benarkah aku ego?
Ku tilik kebelakang dengan terus membawa tanya ‘apa benar aku ego?’ Setiap pertengkaran yang terjadi, selalu aku yang meminta maaf. Itukah ego? Setiap aku protes karena ia jarang memberi kabar, itukah ego? Ketika aku marah, dan berusaha menjelaskan apa yang membuatku marah itukah ego? Ketika aku butuh sedikit saja perhatian di sela kesibukannya itukah ego? Ketika aku berusaha menjaga hubungan ini agar tetap baik dengan memaparkan hal-hal yang tidak aku sukai itukah ego? Ketika aku melarang hal-hal kecil yang kerap kau lakukan yang dapat mengganggu kesehatanmu, itukah ego? Ketika aku menyarankan kau harus begini dan begitu demi masa depanmu itukah ego?
Ya, anggap saja itu ego. Ego seorang aku yang terlalu meninginkan yang terbaik bagimu. Ego seorang aku yang begitu takut kehilanganmu. Ego seorang aku yang terlalu menyayangimu.
Lalu,apa kau tahu apa ego terbesarku?
Ego terbesarku adalah menghubungimu terlebih dahulu dan meminta hubungan ini diperbaiki ketika kau jengah dan meminta berpisah. Ya, itu adalah ego terbesarku. Dan apa kau tahu, untuk melakukan hal itu aku berperang dengan logika dan harga diriku…
            Terimakasih..
            Egoku memanggilku keluar untuk menemukan yang lebih baik darimu. Darimu yang ‘selalu benar’ dan darimu yang membalut rasa bosan dengan melempar kalimat “Kamu terlalu ego, Netri!”
                                                                                                            Pariaman, 7/3/2015

Selasa, 23 Juni 2015

Sebuah Cerpen


Hilangnya Mak Mun
Oleh Netri Olala


Namanya Maimunah. Orang-orang kampung memanggilnya Mak Mun. Wanita paruh baya itu bertubuh gemuk dan pendek dengan pinggul yang besar. Sehingga ketika ia berjalan akan kelihatan seperti itik dari kejauhan. Jika akan ke luar rumah menuju lapau, ia tak lupa mengenakan tudung dari anyaman bambu persis seperti yang dipakai petani di sawah untuk melindungi kepalanya dari terik matahari. Tak lupa sandal yang terbuat dari kayu atau yang disebut orang Minang tangkelek, ia pakai untuk mengalas kakinya. Dengan cara berjalan yang khas, maka tangkelek Mak Mun akan menghasilkan suara yang khas pula. Suara itu sudah dihafal orang kampung. Mereka akan tahu, Mak Munl sedang lewat di depan rumah mereka hanya dari suara tangkeleknya. Tak ayal, induak-induak yang tengah bergunjing di lapau, kontan  menutup rapat mulutnya, jika sudah terdengar sayup suara tangkelek Mak Mun dari kejauhan.
Bungkamnya induak-induak yang tadinya menggebu-gebu bercerita tentang keburukan si ini dan si itu di lapau bukan tanpa sebab. Mak Mun adalah orang yang amat sinikel dan omongannya menukik tajam di hati orang yang terkena sindirannya. Jika mendapati induak-induak  tengah bergunjing di lapau, Mak Mun akan memberi wejangan dengan ceramah-ceramah agamanya. Pada saat itu ia akan melantunkan beberapa potongan ayat suci Al Quran lengkap dengan terjemahannya. Seketika, lapau akan berubah fungsi dan suasananya mirip seperti di Surau.
Mak Mun bahkan pernah menceramahi Anduang Mala yang usianya terpaut jauh darinya dengan dalih tak pernah melihat Anduang Mala sembahyang ke Surau. Perdebatan sengit pun terjadi kala itu.
“Sholat itu urusan aku dengan Tuhan, tak mesti di Surau, di rumah pun bisa. Bercerminlah kau dahulu sebelum mengajariku. Kita urus saja urusan kita masing-masing”. Anduang Mala membela diri. Namun bukan Mak Mun namanya jika kalah. Ia terus berargumen, tanpa peduli wajah Anduang Mala telah merah karna malu diceramahi di depan banyak orang. Waktu itu kejadiannya di sebuah pondok milik Amak Mana.
 Tak hanya itu, Mak Mun bahkan pernah membuat ricuh orang di dapur ketika memasak di rumah orang baralek.
“ Beras yang kau bawa hanya secanting, sedangkan nasi orang yang kau makan bersama anak-anakmu lebih dari apa yang kau bawa,” Mak Mun menyindir tajam salah seorang dari mereka yang tengah makan bersama dua orang anaknya yang masih kecil seusai menolong pekerjaan di rumah baralek. Kemudian ia mengkait-kaitkan hal tersebut dengan  agama. Ia mengkaji semua dengan ayat-ayat al quran yang entah kebenarannya. Pada kondisi ini tidak akan sanggup satu orang pun bersuara meski hati mereka murka. Puas berceramah, Mak Mun lalu pulang meninggalkan orang-orang di rumah baralek itu yang sebentar lagi akan menggunjingkannya. Maka, secepat kilat berita Mak Mun mericuh di rumah orang baralek pun segera menjadi buah bibir di seantero kampung.
****
Entah apa yang terjadi pada diri Mak Mun. Kali ini kampung kami dihebohkan lagi dengan berita Mak Mun bertengkar dengan jamaah pria di Surau.
“ Dia menuduh Pak Jamal tidak khusyuk dalam sembahyang. Bahkan, Mak Mun bersumpah bahwa ketika sholat Maghrib tadi, ia melihat Pak Jamal menoleh ke kanan dan ke kiri. Parahnya, ia menegur Pak Jamal di depan orang banyak, betapa malunya Pak Jamal” cerita Elok Siti pada orang-orang kampung yang tengah sarapan lontong di lapau Mak Ipah.
            “ Mak Mun itu keterlaluan! Anduang Rama saja sampai sekarang enggan ke Surau setelah dia bilang mukena yang dipakai Anduang Rama berbau karena tidak pernah dicuci. Ia bilang begitu, ketika Anduang Rama shalat disebelahnya”, timpal Ayang Pia.
            “Semakin hari dia semakin menjadi-jadi. Ia berbicara tanpa menenggang perasaan orang. Apa yang membuat dia seberani itu?  Lupakah dia bahwa dia itu orang Minang, sama seperti kita. Banyak hal yang harus diperhatikan ketika berbicara dan bertindak. Apa dia membanggakan hidupnya yang kini sudah kaya? Memang sekarang anak-anaknyanya sudah kaya raya di rantau orang, tapi di atas langit masih ada langit. Walaupun orang kampung disini hanya orang biasa yang cuma petani dan nelayan, pantaslah rasanya ia hargai. Toh untuk makan kita tidak meminta darinya”, Elok Siti berbicara lebih berani lagi.
            “Kalian hidup bukan di jaman kami dulu. Jadi untuk apa kalian menebak-nebak apa yang terjadi pada dia sekarang hingga begini. Asal kalian tahu saja, si Mun itu dulu adalah orang yang amat miskin di kampung ini. Untuk makan saja dia begitu susah. Dulu, tak sedikit hutangnya di lapauku, tapi karena iba pada anak-anaknya aku pun terus memberi dia hutang. Suaminya tidak bekerja karena sakit-sakitan. Tapi, yang membuat aku kecewa padanya adalah, ketidakjujurannya. Ketika aku lengah, dia menyelipkan beberapa dagangan ku seperti sabun, gula, dan roti di balik kain yang ia pakai. Sekali dua kali memang aku tidak mengetahui. Tapi ketika itu, entah apa yang membuat dia jatuh tersungkur sepulang dari lapauuku, maka berhamburan keluarlah segala apa yang tersembunyi dibalik kainnya. Aku benar-benar malu melihat kecurangannya. Semenjak peristiwa itu hingga sekarang, ia tak berani lagi kesini. Jika hendak membeli apa-apa ia akan pergi ke lapauu  Uni Sima. Ketika berjumpa denganku di jalan atau di Surau, dia akan memalingkan wajahnya. Kini hidupnya sudah berubah. Dia sudah berkecukupan. Aku tak berharap ia membayar semua hutangnya dulu  juga mengganti daganganku yang ia curi, yang aku mau hanya dia meminta maaf padaku.”
            “ Benar terjadi itu, Mak?” tanya Uni Mar tak percaya.
            “ Apa untungnya aku berdusta”. Mak Ipah meyakinkan. Semua orang yang berada di lapau Mak Ipah itu menggeleng tak percaya.
                                                ***
            Hari ini kampungku heboh lagi. Masih berita tentang Mak Mun. Kata orang-orang kampung, sudah lebih dari satu bulan Mak Mun tidak terlihat ke surau juga tidak nampak keluar rumah. Hal itu terjadi setelah Elok Siti bertengkar hebat dengan Mak Mun sehabis sholat Subuh waktu itu.
            “ Apa yang kau pertengkarkan dengannya, Siti?” tanya Mak Ipah ketika elok Siti belanja ke lapaunya.
            “Dia berani berkata bahwa anak ku bukan anak manusia karena anakku menangis di surau waktu itu. Dia mencaci maki anakku dan berkata bahwa anakku telah mengganggu kekhusyukan shalatnya. Anak ku yang masih lima tahun itu tahu apa memangnya. Dia belum berakal. Tak sepatutnya ia berkata seperti itu.”
            “Lalu apa yang kau katakana padanya?”
            “ Aku hanya menyuruhnya berkaca. Tak sepatutnya ia berbicara seperti alim ulama semantara akhlaknya tidak beres. Aku bilang bahwa ia juga tak pernah khusyuk ketika shalat. Kalau memang dia khusyuk ketika shalat, tak mungkin ia bisa bersumpah melihat pak Jamal menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat. Kalau dia khusyuk, tentu dia tidak akan melihat itu”.
            “ Lalu apa katanya?”
            “Dia hanya membisu. Aku juga sampaikan padanya bahwa Anduang Rama tak sekotor yang ia bayangkan. Anduang Rama sering mencuci mukenanya dengan sabun yang ia beli di lapau, bukan yang ia curi. Karena Anduang Rama bukan seorang pencuri seperti dia”.
            “ Astaghfirulah, Siti! Kau bicara seperti itu?”, Mak Ipah sangat terkejut.
            “ Iya, Mak. Aku sangat emosi ketika itu. Aku tidak suka diceramahi oleh orang yang tidak benar”.
            “ Lalu dia tak membalas kata-katamu sama sekali?”
            “ Dia tidak bicara apa-apa. Ia hanya diam dan berlari menuju rumahnya. Dan hingga kini ia tidak berani keluar!”
            “Sadarkah kau ucapanmu itu telah membuat luka hatinya? Apakah pertengkaran kalian itu disaksikan orang banyak?”
            “Luka hatinya tak sebanding dengan luka hatiku, luka hati orang-orang yang dibelinya dengan kata-kata kasarnya dan luka Mak Ipah juga. Semua jamaah surau menyaksikan pertengkaran kami dan mereka terkejut seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan”, jelas Siti berapi-api.
            “Aku telah memaafkannya. Sungguh, aku telah memaafkannya. Aku sudah tidak menghitung-hitung lagi berapa banyak daganganku yang ia curi dulu. Aku ikhlas. Tapi ia tak lagi menegurku, itu yang ku sesalkan. Nanti, selepas shalat maghrib aku akan datang ke rumahnya”.
            “Untuk apa?”
            “Untuk memohonkan maaf atas ucapanmu”.
            Siti terkejut..
“Untuk apa, Mak. Bukankah dia yang salah. Dia yang bermulut kasar. Sering menceramahi orang dan dia suka mencuri dagangan Mak Ipah..
“Itu dulu!” jawab Mak Ipah tegas, memotong pembicaraan Siti. Wajah Mak Ipah mulai menunjukan ketidaksenangan. Diraut wajah tuanya, tergurat penyesalan teramat dalam karna telah menceritakan keburukan Mak Mun dimasa lampau, beberapa waktu lalu pada Siti dan beberapa orang kampung lainnya. Mak Ipah tidak menyangka bahwa cerita itu akan sampai ke telinga Mak Mun dan membuat ia  tak lagi mau keluar rumah, pergi ke rumah orang barelek bahkan untuk shalat ke surau sekali pun.
Mak Mun kini terus menutup diri. Tak seorang pun boleh menemuinya. Mulutnya terkunci oleh ceramah-ceramah agama yang ia sering sampaikan sendiri. Sindiran-sindiran yang ia lontarkan dengan begitu tajam selama ini kini balik menyerang. Sebuah goresan hitam Mak Mun di masa lalu mampu menenggelamkan pernyataan-pernyataan maha angkuhnya. Kini, Mak Mun telah hilang. Hilang tertimbun dalam rumah mewah oleh harta benda yang anak-anaknya carikan di rantau orang.
##