Selasa, 12 Februari 2013

Berita dan Feature, implementasi perkuliahan Jurnalistik dan Kunjungan ke Koran Singgalang



 ini adalah berita dan feature yang saya tulis demi memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Jurnalistik yang mengharuskan mahasiswanya menulis satu buah berita yang terjadi di lingkungan sekitar lalu dikembangkan mejadi sebuah feature. sebelum menulis berita kami para mahasiswa diajak mengunjungi kunjungan Jurnalistik ke koran Singgalang. disana dapat ilmu dari dua orang wartawannya yaitiu Eriani atau akrab disapa Bang Lelek dan Kak Lenggo Geni yang baru saja kembali dari Amerika untuk meliput sebuah berita. Awesome!


just for sharing, silahkan baca jika bermanfaat!

Berita:

“Mencuri Knalpot, Dua Remaja Pria Habis Dihajar Massa”

PARIAMAN-Dua orang remaja laki-laki berinisial AD(18) dan rekannya berinisial RY (16) yang merupakan warga Santok, Pariaman, babak belur dihajar massa jalan Cut Nyak Dien  Kelurahan Jati Hilir, Pariaman 13/01/13 pada pukul 16:30 Wib. Pasalnya, kedua orang remaja laki-laki tersebut nekat mencuri sebuah knalpot divengkel tempat mereka memperbaiki motornya. Aksi itu dipergoki oleh salah satu warga yang sedang mencangkul di sawah miliknya yang persis berada di samping bengkel tersebut berada. Pelaku mulai beraksi pada saat pemilk bengkel masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu,
            Warga yang geram akan ulah tersebut akhirnya bertindak brutal. Keduanya dipukuli oleh warga setempat dan juga pemilik bengkel sebelum diserahkan kekantor polisi.
            “Untuak bayar uang sekolah, Da”, jawab salah satu diantaranya dengan terbata ketika ditanya kenapa mencuri knalpot sepeda motor dibengkel tersebut.









Feature:

“Menggantungkan Asa pada Sebuah Knalpot”

            Hari itu, Minggu 13 Januari 2013, pada pukul 17:30 wib, menjadi hari paling mengenaskan bagi dua remaja pria berinisial AD dan RY warga Santok Pariaman. Keduanya dipukuli massa yang geram oleh aksi pencurian yang keduanya coba lakukan disebuah bengkel di jalan Cut Nyak Dien, Keluraan Jati Hilir, Kota Pariaman. Yang coba mereka curi hya sebuah knalpot bekas sepeda motor yang kebetulan sedang tergeletak ketika pemiliknya masuk kedalam rumah hendak mengambil sesuatu.
            Bukan knalpot bekas tersebut yang berhasil mereka peroleh. Namun bogem mentah dari tangan-tangan yang sedang menghakimi mereka. Mereka dipukuli, ditampar dan ditinju berkali-kali. Tidak hanya satu dua orang yang memukuli, namun lebih dari sepuluh orang yang menghakimi.
            Jerit tangis dan teriak ampun mereka tak digubris oleh tuan-tuan yang sedang mrah tersebut. Leleh berkata ampun, keduanya memilih diam denagn tangan menutupi wajah berharap bagian tubuh yang satu itu dapat terlindungi. Sementara tangan dan kaki terus mengahantam ke area yang coba mereka tutupi.
            Jika aksi percobaan pencurian yang mereka lakukan tidak terpergoki oleh salah satu warga yang sedang bekerja disawah miliknya ynag berada tepat disamping bengkel tersebut, mungkin keduanya tak bernasib senaas ini. Mungkin meraka telah menunggangi sepeda motor mereka yang selesai diperbaiki dibengkel tempat mereka melancarkan aksi percobaan pencurian tersebut.
            Namun nasi telah menjadi bubur. Jangan membawa pulang knalpot, membaawa diri mereka pulang saja kini sudah tak bisa. Lebih miris lagi ketika meraka menjawab pertanyaan salah seorang warga yang bertanya apa alasannya mencuri knalpot, salah satu diantara mereka menjawab “Untuk-bayar-uang-sekolah-pak”,dengan terbata.
            Ironis memang. Ketika rakyat kecil menggantungkan asanya pada pendidikan, pendidikan malah tak ramah menyambut asa mereka. Dengan biaya pendidikan yang amat tinggi, anak dari rakyat kecil seperti dicekoki pil pahit yang maat sulit ditelan.
            Untuk pendidikan, kita sama-sama tahu Pemerintah Kota Pariaman telah menggratiskan uang sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Tapi itu hana berlaku bagi sekolah-sekolah negri. Lagi pula, bebas uang sekolah tak berarti bebas uang buku, uang computer, transportasi dan keperuann lainnya. Jika pemerintah kota Pariaman telah menyokong 50% untuk anak-anak kota Pariaman dalam usaha meraih mimpinnya lewat pendidikan, maka 50% lagi anak-anak tersebut menggantungkan asanya pada orang tua. Akan sangat berbahagia bagi mereka yang berasal dari keluarga yang mampu. Tapi amat menderita bagi mereka yang berkehidupan pas-pasan saja. Mereka seperti berpijak pada kayu lapuk. Bergerak sedikit saja kayu itu akan patah dan mereka akn terjatuh. Sama halnnya dengan uang keperluan sekolah, berjumlah banyak sedikit saja, mereka akan bingung hendak mencari kemana. Seperti AD dan RY, ketika orang tua tempat mereka bergantung sudah tak bisa memberikan harapan, maka ereka mencari harapan itu diluaran. Mereka mencari kemana saja. Mereka mencari apa saja. Hingga pencarian mereka berhenti disebuah bengkel dan pada knalpot bekas yang ada didalamnya. Bermaksud hendak mencuri knalpot itu lalu dijual untuk membayar hutang mereka kepada sekolah. Berharap ayah dan ibu dirumah lega walau tak tahu sebenarnya uang itu didapat dari mana.
            Namun asa yang mereka gantungkan pada knalpot bekas itu pupus sudah. Niat mereka meringankan beban orang tua dengan cara yang mereka anggap paling benar pada saat itu sirna sodah. Asa mereka berbalas amuk maa. Harapan mereka tersambut pukulan tuan-tuan ynag sedang marah.
            Hidup memang dirasa tidak adil bagi beberapa pihak. Pada saat inilah pihak-pihak tersebut mempertanyakan dimana kehadiran dan peran pemerintah dan Tuhan. Disaat pendidikan yang digembar-gemborkan gratis menyelipkan hutang yang tak tipis, janji-janji pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya mulai digubris. Jangan hanya janji jadi titah tak bertuah. Yang tak punya implementasi sama sekali.

AD dan Ry adalah sampel dari populasi yang menagih janji itu. berharap mereka dapat sekolah tanpa harus memikirkan biaya. Dapat membaca buku tanpa harus memikirkan sudah berapa hutangnya pada guru. Dapat mengerjakan PR tanpa harus bertanya mau mencari kemana uang denda dari sekolah yang diberatkan kepada mereka karna melakukan sebuah pelanggaran.
Izinkanlah anak negri kita bermimpi tanpa harus dibagunkan oleh mimpi buruk bahwa keluarganya miskin. Merealisasikan mimpinya tanpa harus mencuri semoga tidak ada lagi AD dan RY lainnya yang berharap adil dari sebuah knalpot bekas. AD dan RY adalah wajah kita semua. Mereka adik kita, kemenakan kita, anak kita, beri mereka pengertian atas perbuatan yang mereka lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar