ini adalah berita dan feature yang saya tulis demi memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Jurnalistik yang mengharuskan mahasiswanya menulis satu buah berita yang terjadi di lingkungan sekitar lalu dikembangkan mejadi sebuah feature. sebelum menulis berita kami para mahasiswa diajak mengunjungi kunjungan Jurnalistik ke koran Singgalang. disana dapat ilmu dari dua orang wartawannya yaitiu Eriani atau akrab disapa Bang Lelek dan Kak Lenggo Geni yang baru saja kembali dari Amerika untuk meliput sebuah berita. Awesome!
just for sharing, silahkan baca jika bermanfaat!
Berita:
“Mencuri
Knalpot, Dua Remaja Pria Habis Dihajar Massa”
PARIAMAN-Dua
orang remaja laki-laki berinisial AD(18) dan rekannya berinisial RY (16) yang
merupakan warga Santok, Pariaman, babak belur dihajar massa jalan Cut Nyak
Dien Kelurahan Jati Hilir, Pariaman
13/01/13 pada pukul 16:30 Wib. Pasalnya, kedua orang remaja laki-laki tersebut
nekat mencuri sebuah knalpot divengkel tempat mereka memperbaiki motornya. Aksi
itu dipergoki oleh salah satu warga yang sedang mencangkul di sawah miliknya
yang persis berada di samping bengkel tersebut berada. Pelaku mulai beraksi
pada saat pemilk bengkel masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu,
Warga yang geram akan ulah tersebut akhirnya bertindak
brutal. Keduanya dipukuli oleh warga setempat dan juga pemilik bengkel sebelum
diserahkan kekantor polisi.
“Untuak bayar uang sekolah, Da”, jawab salah satu
diantaranya dengan terbata ketika ditanya kenapa mencuri knalpot sepeda motor
dibengkel tersebut.
Feature:
“Menggantungkan
Asa pada Sebuah Knalpot”
Hari itu, Minggu 13 Januari 2013, pada pukul 17:30 wib,
menjadi hari paling mengenaskan bagi dua remaja pria berinisial AD dan RY warga
Santok Pariaman. Keduanya dipukuli massa yang geram oleh aksi pencurian yang
keduanya coba lakukan disebuah bengkel di jalan Cut Nyak Dien, Keluraan Jati
Hilir, Kota Pariaman. Yang coba mereka curi hya sebuah knalpot bekas sepeda
motor yang kebetulan sedang tergeletak ketika pemiliknya masuk kedalam rumah
hendak mengambil sesuatu.
Bukan knalpot bekas tersebut yang berhasil mereka
peroleh. Namun bogem mentah dari tangan-tangan yang sedang menghakimi mereka.
Mereka dipukuli, ditampar dan ditinju berkali-kali. Tidak hanya satu dua orang
yang memukuli, namun lebih dari sepuluh orang yang menghakimi.
Jerit tangis dan teriak ampun mereka tak digubris oleh
tuan-tuan yang sedang mrah tersebut. Leleh berkata ampun, keduanya memilih diam
denagn tangan menutupi wajah berharap bagian tubuh yang satu itu dapat
terlindungi. Sementara tangan dan kaki terus mengahantam ke area yang coba
mereka tutupi.
Jika aksi percobaan pencurian yang mereka lakukan tidak
terpergoki oleh salah satu warga yang sedang bekerja disawah miliknya ynag
berada tepat disamping bengkel tersebut, mungkin keduanya tak bernasib senaas
ini. Mungkin meraka telah menunggangi sepeda motor mereka yang selesai
diperbaiki dibengkel tempat mereka melancarkan aksi percobaan pencurian
tersebut.
Namun nasi telah menjadi bubur. Jangan membawa pulang
knalpot, membaawa diri mereka pulang saja kini sudah tak bisa. Lebih miris lagi
ketika meraka menjawab pertanyaan salah seorang warga yang bertanya apa
alasannya mencuri knalpot, salah satu diantara mereka menjawab
“Untuk-bayar-uang-sekolah-pak”,dengan terbata.
Ironis memang. Ketika rakyat kecil menggantungkan asanya
pada pendidikan, pendidikan malah tak ramah menyambut asa mereka. Dengan biaya
pendidikan yang amat tinggi, anak dari rakyat kecil seperti dicekoki pil pahit
yang maat sulit ditelan.
Untuk pendidikan, kita sama-sama tahu Pemerintah Kota
Pariaman telah menggratiskan uang sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga
sekolah menengah atas. Tapi itu hana berlaku bagi sekolah-sekolah negri. Lagi
pula, bebas uang sekolah tak berarti bebas uang buku, uang computer,
transportasi dan keperuann lainnya. Jika pemerintah kota Pariaman telah
menyokong 50% untuk anak-anak kota Pariaman dalam usaha meraih mimpinnya lewat
pendidikan, maka 50% lagi anak-anak tersebut menggantungkan asanya pada orang
tua. Akan sangat berbahagia bagi mereka yang berasal dari keluarga yang mampu.
Tapi amat menderita bagi mereka yang berkehidupan pas-pasan saja. Mereka
seperti berpijak pada kayu lapuk. Bergerak sedikit saja kayu itu akan patah dan
mereka akn terjatuh. Sama halnnya dengan uang keperluan sekolah, berjumlah banyak
sedikit saja, mereka akan bingung hendak mencari kemana. Seperti AD dan RY,
ketika orang tua tempat mereka bergantung sudah tak bisa memberikan harapan,
maka ereka mencari harapan itu diluaran. Mereka mencari kemana saja. Mereka
mencari apa saja. Hingga pencarian mereka berhenti disebuah bengkel dan pada
knalpot bekas yang ada didalamnya. Bermaksud hendak mencuri knalpot itu lalu
dijual untuk membayar hutang mereka kepada sekolah. Berharap ayah dan ibu
dirumah lega walau tak tahu sebenarnya uang itu didapat dari mana.
Namun asa yang mereka gantungkan pada knalpot bekas itu
pupus sudah. Niat mereka meringankan beban orang tua dengan cara yang mereka
anggap paling benar pada saat itu sirna sodah. Asa mereka berbalas amuk maa.
Harapan mereka tersambut pukulan tuan-tuan ynag sedang marah.
Hidup memang dirasa tidak adil bagi beberapa pihak. Pada
saat inilah pihak-pihak tersebut mempertanyakan dimana kehadiran dan peran
pemerintah dan Tuhan. Disaat pendidikan yang digembar-gemborkan gratis
menyelipkan hutang yang tak tipis, janji-janji pemerintah untuk mensejahterakan
rakyatnya mulai digubris. Jangan hanya janji jadi titah tak bertuah. Yang tak
punya implementasi sama sekali.
AD
dan Ry adalah sampel dari populasi yang menagih janji itu. berharap mereka
dapat sekolah tanpa harus memikirkan biaya. Dapat membaca buku tanpa harus
memikirkan sudah berapa hutangnya pada guru. Dapat mengerjakan PR tanpa harus
bertanya mau mencari kemana uang denda dari sekolah yang diberatkan kepada
mereka karna melakukan sebuah pelanggaran.
Izinkanlah
anak negri kita bermimpi tanpa harus dibagunkan oleh mimpi buruk bahwa
keluarganya miskin. Merealisasikan mimpinya tanpa harus mencuri semoga tidak
ada lagi AD dan RY lainnya yang berharap adil dari sebuah knalpot bekas. AD dan
RY adalah wajah kita semua. Mereka adik kita, kemenakan kita, anak kita, beri
mereka pengertian atas perbuatan yang mereka lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar