Selasa, 19 Februari 2013

Jika Aku Menikah Nanti


Jika Aku Menikah Nanti
            Aku baru akan menikah setelah aku benar-benar tau dengan siapa aku menikah. Setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku sangat mencintainya. Aku tidak mau di paksa. Persetan dengan retorika;dia kaya, punya pekerjaan bagus dan sabagainya. Aku tidak mau cintaku di paksa tumbuh. Syukur jika cinta itu tumbuh setelah menikah. Jika tidak?  
            Rasanya, tidak berlebihan jika aku memikirkan hal ini. Aku gadis 22 tahun. Yang jika tidak sedang menempuh pendidikan di perguruan, mungkin akan segera dinikahkan. Aku juga telah banyak menerima undangan pernikahan dari teman semasa SD ku, SMP, SMA, bahkan teman sesema kuliah.
            Si A misalnya, teman semasa SD ku. Betapa aku tertawa geli melihat wajahnya yang merah ketika guru agama kami menyuruh ia membaca doa sebelum belajar seorang diri ke depan kelas,tapi kini ia telah mantap membaca ijab qabul di hadapan penghulu dan para saksi. Betapa hebatnya dia! Jika ia tidak mempersunting gadis yang ia cintai, ia tak semantap itu mengucap ijab qabul. Aku menyaksikan sendiri akad nikahnya.
            Lalu si B. Ia adalah teman semasa SMA ku. Aku menjadi saksi betapa ia menangis perih ketika ia tahu bahwa pacarnya menduakan cintanya untuk yang kesekian kali. Aku bisa merasakan sesaknya paa saat itu. ia bahkan tidak pernah mau move on dari pria itu dengan alasan terlanjur cinta. Tapi, 2 tahun selepas SMA aku mendapatkan undangan pernikahannya. Dan aku ikut bahagia ketika nama pengantin pria yang tertera di undangan bukan nama pria brengsek yang sudah menyelingkuhinya berkali-kali. Temanku ini berhasil move on. Dia sudah menemukan orang yang  tepat menurutnya. Maka berbahagialah ia dengan pernikahannya.  
            Lain lagi si C. Ia adalah teman kuliah ku. Kita beda jurusan tapi seangkatan. Kami saling kenal ketika kami sama-sama berkecimpung didunia organisasi kampus. Aku sanagt terkejut ketika ia bilang ia akan menikah. Aku tak menaggapi serius pada saat itu. aku pikir ia bercanda. Tapi anggapan ku itu kemudian dimentahkan oleh surat undangan yang kuterima. Mengira ia sudah mnemukan orang yang tepat, aku pun turut berbahagia. Namun sayang, enam bulan setelah pernikahan manis itu dilangsungkan, mereka bercerai. Mantan suaminya yang juga mahasiswa ditempat yang sama dengan kami memilih cuti dan pergi kekota lain setelah bercerai. Dan teman ku itu pun mengaku pasrah dengan nasib pernikahannya. Terlalu berat tugas yang ia emban, katanya. “Boro-boro mengurusi suami, mengurusi kuliah saja ia keteteran”, lanjutnya lagi.
            Dari kisah teman-temanku yang kurangkum itu, aku dapat menarik kesmpulan dari apa itu MENIKAH. Menikah itu adalah keputusan. Menikah itu adalah tanggung jawab. Menikah bukan sekedar pesta mewah yang pada akhirnya hanya akan menjadi ceremonial abadi di album foto. Menikah bukan sekedar upacara keagamaan yang kemudian menghalalkan kontak fisik semata. Menikah lebih dari itu!
            Aku ingin menikah jika aku aku sudah bertemu dengan pria yang benar-benar mencintaiku. Pria yang dengan mantap mengikatku denagn janji sehidup semati didepan para saksi seperti teman SD ku si A tadi.
            Aku akan menikah jika aku telah benar-benar yakin dialah jodoh yang selama ini dipersiapkan Tuhan untukku. Seperti temanku si B, aku juga ingin memantapkan hati dan move on. Karena dengan begitu aku akan lebih ikhlas bangun pagi untuk sekedar membuatkannya kopi. Aku akan lebih sabar memasak agar enak untuknya. Aku akan kuat mencuci dan menyetrika bajunya demi ia terlihat rapih. Aku akan lebih bijak mengurusi anak-anaknya kelak. Dengan kasih sayang, tanpa amarah. Dan terpenting, aku akan lebih tulus merawat ia ketika sakit dan tua nanti. Ya, aku baru akan menikah jika sudah menemukan pria itu. pria baik-baik yang meminangku dengan harta paling berharga yang ia punya, yaitu keislamannya. Semoga lekas Tuhan mempertemukan aku dengannya.
            Aku tidak ingin seperti si C yang menikah karena terburu nafsu . menikah diusia yang belum matang sebenarnya. Aku tidak ingin gagal. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dengan pria yang mampu membuatku jatuh cinta berulang kali selama hidup. Tuhan, mohon kabulkan!
                                                                        Netri, Pariaman 14 Februari, 12:06 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar