Jika
Aku Menikah Nanti
Aku baru akan menikah setelah aku
benar-benar tau dengan siapa aku menikah. Setelah aku benar-benar menyadari
bahwa aku sangat mencintainya. Aku tidak mau di paksa. Persetan dengan
retorika;dia kaya, punya pekerjaan bagus dan sabagainya. Aku tidak mau cintaku
di paksa tumbuh. Syukur jika cinta itu tumbuh setelah menikah. Jika tidak?
Rasanya, tidak berlebihan jika aku
memikirkan hal ini. Aku gadis 22 tahun. Yang jika tidak sedang menempuh
pendidikan di perguruan, mungkin akan segera dinikahkan. Aku juga telah banyak
menerima undangan pernikahan dari teman semasa SD ku, SMP, SMA, bahkan teman
sesema kuliah.
Si A misalnya, teman semasa SD ku.
Betapa aku tertawa geli melihat wajahnya yang merah ketika guru agama kami
menyuruh ia membaca doa sebelum belajar seorang diri ke depan kelas,tapi kini
ia telah mantap membaca ijab qabul di hadapan penghulu dan para saksi. Betapa
hebatnya dia! Jika ia tidak mempersunting gadis yang ia cintai, ia tak semantap
itu mengucap ijab qabul. Aku menyaksikan sendiri akad nikahnya.
Lalu si B. Ia adalah teman semasa
SMA ku. Aku menjadi saksi betapa ia menangis perih ketika ia tahu bahwa
pacarnya menduakan cintanya untuk yang kesekian kali. Aku bisa merasakan
sesaknya paa saat itu. ia bahkan tidak pernah mau move on dari pria itu dengan
alasan terlanjur cinta. Tapi, 2 tahun selepas SMA aku mendapatkan undangan
pernikahannya. Dan aku ikut bahagia ketika nama pengantin pria yang tertera di
undangan bukan nama pria brengsek yang sudah menyelingkuhinya berkali-kali.
Temanku ini berhasil move on. Dia sudah menemukan orang yang tepat menurutnya. Maka berbahagialah ia
dengan pernikahannya.
Lain lagi si C. Ia adalah teman
kuliah ku. Kita beda jurusan tapi seangkatan. Kami saling kenal ketika kami
sama-sama berkecimpung didunia organisasi kampus. Aku sanagt terkejut ketika ia
bilang ia akan menikah. Aku tak menaggapi serius pada saat itu. aku pikir ia
bercanda. Tapi anggapan ku itu kemudian dimentahkan oleh surat undangan yang
kuterima. Mengira ia sudah mnemukan orang yang tepat, aku pun turut berbahagia.
Namun sayang, enam bulan setelah pernikahan manis itu dilangsungkan, mereka
bercerai. Mantan suaminya yang juga mahasiswa ditempat yang sama dengan kami
memilih cuti dan pergi kekota lain setelah bercerai. Dan teman ku itu pun
mengaku pasrah dengan nasib pernikahannya. Terlalu berat tugas yang ia emban,
katanya. “Boro-boro mengurusi suami,
mengurusi kuliah saja ia keteteran”, lanjutnya lagi.
Dari kisah teman-temanku yang
kurangkum itu, aku dapat menarik kesmpulan dari apa itu MENIKAH. Menikah itu
adalah keputusan. Menikah itu adalah tanggung jawab. Menikah bukan sekedar pesta
mewah yang pada akhirnya hanya akan menjadi ceremonial abadi di album foto.
Menikah bukan sekedar upacara keagamaan yang kemudian menghalalkan kontak fisik
semata. Menikah lebih dari itu!
Aku ingin menikah jika aku aku sudah
bertemu dengan pria yang benar-benar mencintaiku. Pria yang dengan mantap
mengikatku denagn janji sehidup semati didepan para saksi seperti teman SD ku
si A tadi.
Aku akan menikah jika aku telah
benar-benar yakin dialah jodoh yang selama ini dipersiapkan Tuhan untukku.
Seperti temanku si B, aku juga ingin memantapkan hati dan move on. Karena
dengan begitu aku akan lebih ikhlas bangun pagi untuk sekedar membuatkannya
kopi. Aku akan lebih sabar memasak agar enak untuknya. Aku akan kuat mencuci
dan menyetrika bajunya demi ia terlihat rapih. Aku akan lebih bijak mengurusi
anak-anaknya kelak. Dengan kasih sayang, tanpa amarah. Dan terpenting, aku akan
lebih tulus merawat ia ketika sakit dan tua nanti. Ya, aku baru akan menikah
jika sudah menemukan pria itu. pria baik-baik yang meminangku dengan harta
paling berharga yang ia punya, yaitu keislamannya. Semoga lekas Tuhan
mempertemukan aku dengannya.
Aku tidak ingin seperti si C yang
menikah karena terburu nafsu . menikah diusia yang belum matang sebenarnya. Aku
tidak ingin gagal. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dengan pria yang mampu
membuatku jatuh cinta berulang kali selama hidup. Tuhan, mohon kabulkan!
Netri,
Pariaman 14 Februari, 12:06 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar